BREAKING NEWS

Berburu Soe Hok Gie Bersama Gandawesi

Berburu Soe Hok Gie Bersama Gandawesi
Oleh Peri Irawan

Belakangan ini, sebuah postingan lomba menulis tersebar pada sosial media. Namun, ada satu yang menarik dalam postingan itu. Program #giveaway yang diluncurkan Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi, menantang pembaca, khususnya warga FPTK untuk menuliskan pengalamannya selama di bumi isola itu. 

Yang cukup menarik, program tersebut mengiming-imingi hadiah berupa kaos keren bertuliskan quote Soe Hok Gie. Siapa yang tak ngiler mendengar Soe Hok Gie? Sosok yang dikenal karena tulisan kritisnya terhadap pemerintah di jamannya.

"Pemenang yang berhak mendapatkan kaos keren bertuliskan quote Soe Hok Gie akan dihubungi oleh pihak redaksi. Keputusan pemenang tidak bisa diganggu gugat," tulis admin Gandawesi.or.id dalam medsosnya.

Bukan masalah kaos atau kutipan Soe Hok Gie dalam kaos itu yang menarik. Tapi, Soe Hok Gie-nya lah yang menarik. Berbicara Soe Hok Gie, jadi terngiang sebuah nama yang juga pakai ejaan china "Oetjoen", sang admin Gandawesi.or.id

Kaos Giveaway Soe Hok Gie (www.gandawesi.or.id)
Oetjoen merupakan kata keren dari ucun atau kependekan bulucun. Bulucun sendiri diartikan telanjang. Lho, kenapa bulucun atau telanjang? Hanya admin yang tahu, dan kenapa dia dipanggil Oetjoen.

Bagiku, sosok oetjoen ini memiliki pemikiran yang juga fenomenal seperti soe hok gie. Kegemaran menulisnya dan keberaniannya pun banyak menginspirasi anggota Gandawesi untuk tetap meneruskan jejak perjuangannya. Eh, kok jejak. Sang Oetjoen kan masih ada dan akan terus menggoreskan inspirasi mumpuni di portal itu.

Kembali ke Soe Hok Gie. Dalam situs biografiku dijelaskan, dia adalah mahasiswa keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942, putra dari pasangan Soe Lie Pit seorang novelis dengan Nio Hoe An. Putra keempat dari lima bersaudara ini dikenal sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Alhasil, karya Soe Hok Gie pun menjadi fenomenal dan menginspirasi banyak mahasiswa di Indonesia.

Menjadi aktivis kemahasiswaan, kritikan Gie juga diyakini mampu menumbangkan kepemimpinan Soekarno. Begitu pun saat dimulainya Orde baru. Kritikan tajam, selalu diluncurkannya terhadap penguasa saat itu. 

Selain aktif di kampus dan dunia pergerakan, Gie pun seringkali mendaki gunung dan ikut mendirikan Mapala UI. Bahkan, kehidupan Gie mendapat sorotan dari dunia perfilman tanah air dan ditayangkan dalam layar lebar.

Soe Hok Gie pun dikabarkan meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. 

Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Disaat Soe Hok Gie hanya tinggal kenangan, akankah lahir soe hok gie-soe hok gie baru dari Gandawesi? 

Kebenaran Itu Tidak Pernah Memihak

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes