BREAKING NEWS

Fotografi

Lingkungan

FPTK

Feminisme Pecinta Alam

Apa sih Feminisme itu?

Kenapa sih ada Feminisme?

Apa sih kaitannya sama Pecinta Alam?


Punya pertanyaan pertanyaan seperti di atas?

Atau punya pertanyaan lain terkait Feminisme?

Memperingati Hari Kartini,

Gandawesi mempersembahkan:

*Diskusi*

>> *FEMINISME PECINTA ALAM *<<


🎊 MINGGU, 21 APRIL 2019

📌 TAMAN BARETI, KAMPUS UPI

⏰ 15.30 - 18.00 WIB

FREE ENTRY

Terbuka untuk umum!

Mau muda, mau tua, mau pria, mau wanita.

Include:

1. Pemahaman

2. Silaturahmi

3. Konsumsi


CP:

📞 +62 838 22060935 (Annida)

📞 +62 838 75145578 (Anisa)


Yuk Ah Kita Berlatih Bareng!

Tidak ada Gandawesi yang terlatih! 

Yang ada Gandawesi yang terus berlatih!

Slogan umum ini banyak dijadikan sebagai penyemangat bagi para pegiat organisasi pecinta alam di mana pun.

Sesi latihan rutin kali ini tentang Rigging, SRT, Variasi Lintasan, dan Self rescue.

Selepas itu, mari kita ngopi!

Catat tanggal dan jam waktunya!

Sabtu, 13 April 2019 di Parkiran depan FPTK UPI 

Sekretariat Gandawesi!

Dipersembahkan oleh Bandung Speleological Activities


Mendaki Bersama Pulang Bersama

Mendaki gunung kini semakin diminati banyak orang. Harus diakui sejak era media sosial, keinginan orang-orang untuk mendaki gunung seolah tidak pernah padam. 

Kehadiran film 5 Cm misalnya, begitu menyedot perhatian banyak orang untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Banyak yang berhasil tapi tidak sedikit pula yang menyisakan cerita tragis sesudahnya. Cerita sukses mah mungkin biasa tapi cerita tragis selalu menjadi sensasi untuk para pencari berita.

Dahulu, tidak sembarang orang bisa mendaki gunung. Selain keterampilan yang harus dikuasi juga peralatan yang sangat mahal dan sulit didapatkan. Orang-orang yang masuk organisasi pecinta alam rerata yang bisa melakukan pendakian gunung. Selain terlatih juga peralatan memadai untuk mendaki gunung. 

Para pecinta alam melakukan latihan rutin baik fisik mental dan pengetahuan untuk mendaki gunung. Alhasil, pendakian bisa berjalan dengan lancar dan pulang dengan selamat. Ada juga yang mengalami kecelakaan diluar kekuasaan manusia. Maksudnya terlatih iya, peralatan yang dibawa juga oke tapi tetap saja ada faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang terkena bencana di gunung.

Masih ingat dalam benak penulis tentang tiga orang pendaki gunung Tampomas yang meninggal dalam tenda dengan peralatan seadanya dan perbekalan seadanya pula. Serang hipotermia bisa menyerang siapa saja di atas gunung. Maka, kesiapan mental mengetahui segala gejala yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa mutlak harus dikuasai oleh pendaki gunung. 

Silakan ikuti kursus atau pelatihan mendaki gunung dengan baik sebelum melakukan pendakian seperti Sekolah Pendaki Gunung yang dilaksanakan oleh Wanadri atau perhimpunan pecinta alam lainnya untuk mengetahui teori dan praktek seputar pengetahuan mendaki gunung dengan aman.

Di Gandawesi, melakukan pendakian gunung itu terkadang rasanya harus ribet sekali. Persiapan ini itu dicek dengan teliti. Kalau ada yang kurang satu saja, harus dipenuhi saat itu juga. Kalau enggak, risiko tidak bisa berangkat mendaki gunung. 

Selalu ingat dengan jargon "Pergi bersama pulang bersama" ini sangat dalam makna dan filosofinya. Kepulangan dan kepergian harus menjadi perhatian karena titik awal suksesnya sebuah pendakian bukan hanya sampai di puncak gunung lalu mengibarkan bendera penuh kebanggaan tapi pulang bersama-sama dalam keadaan utuh. 

Jadi! Mari kita mendaki gunung bersama-sama. Pergi bersama pulang bersama!

Temu Wicara Anggota Muda FKPPA Universitas Pendidikan Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, di Bandung Utara tepatnya di kawasan Bumi Perkemahan Bukit Unggul, Kelompok Pecinta Alam se-UPI mengadakan acara TWAM atau Temu Wicara Anggota Muda.

TWAM selalu spesial diadakan oleh FKPPA (Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam) UPI setelah setiap Perhimpunan beres mengadakan Pendidikan Dasar.

Namanya silaturahmi antar anggota muda dan kadang juga anggota tua (anggota biasa dan anggota luar biasa) maka kegiatan TWAM selalu berisi hal-hal yang sangat asyik. 

Obrolan hangat mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Ditemani secangkir kopi, seonggok api unggun dan segudang cerita hangat. Obrolan santai yang terkesan mengendurkan urat saraf setelah Pendidikan Dasar yang sangat menegangkan. 

TWAM bukan TWKM ya! TWKM itu Temu Wicara dan Kenal Medan. Pada beberapa kesempatan penulis sering diundang untuk hadir di acara TWKM seperti waktu kegiatan di Jogja, Padang, dan tempat lainnya namun belum berjodoh. Alhasil, TWKM tidak hadir ya TWAM saja. Cukup mengobati kerinduan berkumpul dengan para anggota perhimpunan pecinta alam dari mana pun. 

Selain tentu saja kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam yang selalu ditunggu kehadirannya oleh semua pegiat kegiatan luar ruangan atau outdoor. Tentang Gladian Nasional Pecinta Alam, penulis punya pengalaman menarik terutama dalam berinteraksi dengan anggota perhimpunan pecinta alam se-Indonesia. Hal yang sangat menginspirasi dan mudah-mudahan di lain waktu bisa menuliskannya.

Di lokal Bandung, kegiatan kolaborasi perhimpunan pecinta alam ini diwadahi oleh Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya atau FKKBPA BR yang secara bergilir menjadi pengurus atau anggota. Banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh FKKBPA BR ini untuk menyatukan visi dan misi berorganisasi dengan baik. Misalnya saresehan pecinta alam, latihan gabungan, penggalangan sumber daya untuk korban bencana alam, dan masih banyak lagi.

Kembali ke TWAM yang sudah dilaksanakan secara rutin baik dalam bentuk yang sederhana misalnya diadakan di salah satu tempat atau sekretariat salah satu perhimpunan pecinta alam di UPI juga kadang dilakukan di luar. 

Nah, inilah rangkaian dokumentasi kegiatan TWAM 2019 di Bukit Unggul.


Penelusuran Gua Oleh Anggota Muda Hima Chandra

Selepas kegiatan pendidikan dasar Gandawesi, selanjutnya adalah kegiatan pengambilan nomor induk anggota. Berbagai kegiatan dilakukan secara mandiri oleh Anggota Muda. Kegiatan terbaru adalah penelusuran Gua di Pangandaran. Ini adalah harapan anggota muda selepas melakukan kegiatan penelusuran gua.

Sudah tanggal 7 Maret nih, itu berarti, kegiatan Hicaveology dari Anggota Muda Hima Chandra sudah selesai!

Pertama, kami mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Salah satunya ada dari @cavingtasik yang telah mendampingi kami selama di lapangan.

Kedua, kami harap kegiatan kami ini menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi semua pihak yang kami tuju.

Ketiga, di sini kami merilis beberapa foto dari kegiatan fotografi gua ini. Masih banyak loh hasil hasil yang gak kalah keren dari ketiga foto ini. Penasaran? Ikuti terus ceritanya di sini.

Dokumentasi kegiatan:


#hicaveology #himachandra #gandawesikpalh #mainbarenggandawesi #ekspedisi #ekspedisixxxi

Refleksi Hari Konservasi

Kita telah menggunakan sumber daya alam pada tingkat yang sangat cepat, menguras sumber daya alam tanpa memikirkan akibat untuk generasi selanjutnya, kerusakan hutan dan penebangan pohon telah menyebabkan erosi tanah, hilangnya kesuburan tanah dan berdampak banjir yang sangat sering terjadi.

Kita telah boros menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keinginan dan kenikmatan yang hanya sesaat. 

Dampaknya pemanasan global, iklim dan cuaca yang tidak menentu. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan? 

Tepat 6 Maret 2019 adalah hari strategi konservasi se-Dunia. 

Cukup sehari kita selamati hari konservasi ini, sisanya mari kita selamatkan wilayah konservasi untuk melindungi dan menjaga keanekaragaman hayati. 

Menyinggung isu yang hangat tentang penurunan status kawasan dari cagar alam menjadi wisata alam para aktivis lingkungan hidup telah menyampaikan aspirasinya dan turun ke jalan dengan aksi long march bandung-jakarta menuju kementerian LHK untuk mengajukan keberatan dan penolakan terhadap SK 25/MENLHK/SETJEN/PLA2/1/2018 tertanggal 10 Januari 2018.

Di sisi lain berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam.

Mari kita melakukan gerakan reboisasi untuk meningkatkan oksigen di lingkungan dan mengurangi erosi.

Ketika memakai produk elektronik beli produk yang hemat energi dengan memulai menggukan energi terbarukan untuk menjaga cadangan energi. 

gunakan barang yang ramah lingkungan, mengatur pemakaian air, membuang sampah pada tempatnya dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. 

Tentunya pola hidup reduce reuse dan recycle harus terus kita terapkan. 

Dalam rangka mengurangi pemanasan global ayo kita mulai dari diri kita dan mengajak orang orang di sekitar.


Refleksi Hari Konservasi ditulis oleh Ismail Soleh

Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Harga Mati


JAKARTA-Beragam elemen masyarakat dari Jawa Barat yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam Jawa Barat melakukan menolak perubahan status Cagar Alam Kamojang dan Cagar Alam Gunung Papandayan menjadi Taman Wisata Alam. Mereka langsung melakukan long march dari titik nol kota Bandung ke kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta untuk menyuarakan itu.

Bersama aktivis lainnya, mereka menuntut Menteri Siti Nurbaya Bakar untuk mencabut Keputusan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA.2/1/2018 tentang Perubahan Fungsi dalam Fungsi Pokok Kawasan Hutan dari sebagian Cagar Alam Kamojang seluas ±2.391 hektare dan Cagar Alam Gunung Papandayan seluas ±1.991 ha menjadi Taman Wisata Alam (TWA), terletak di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tertanggal 10 Januari 2018.

Tuntutan pencabutan ini diajukan karena, Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan Cagar Alam melanggar atau bertentangan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan melanggar RTRW Nasional.  Perubahan status ini juga tidak melibatkan umum, pihak-pihak yang berkepentingan, masyarakat, organisasi lingkungan hidup, dan kelompok masyarakat sadar kawasan, seperti yang diharuskan Undang-Undang 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Selain itu, perubahan status cagar alam menjadi Taman Wisata Alam ini akan merusak Danau Ciharus, danau purba yang terletak di Cagar Alam Kamojang. Danau Ciharus ini menjadi sumber air sungai Citarum dan Cimanuk, kedua sungai ini termasuk sungai yang sangat penting bagi kehidupan warga Bandung Selatan.

Hutan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan menjadi kawasan yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan dan kehidupan di Bandung Selatan setelah Bandung Utara jadi “hutan beton”. Banjir badang Garut tahun 2016 yang sangat mengerikan bagi lingkungan maupun kemanusiaan itu salah satunya disebabkan oleh rusaknya lingkungan di kawasan penyangga Cagar Alam Kamojang dan Papandayan. Penolakan perubahan satatus ini juga menjadi upaya penyelamatan Bandung Selatan sebagai Benteng Terakhir Paryahiangan Selatan.


Sedikitnya ada 20 aktivis yang diterima Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE KLHK), Wiratno. Dalam pertemuan itu, Wiratno berjanji akan menyampaikan tuntutan massa langsung kepada Menteri LHK, Siti Nurbaya.

Salah satu poin yang disampaikan dalam pertemuan itu, pecinta lingkungan hidup akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga titik di Kamojang dan Papandayan. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada aktivitas dalam kawasan. Wiratno juga berjanji akan melakukan komunikasi langsung dengan aliansi untuk meng-update perkembangan tuntutan massa aksi.

"Kurang puas, karena target utama aksi adalah menteri mencabut SK 25/2018. Akan tetapi perjuangan Aliansi Cagar Alam Jawa Barat tidak akan berhenti sebelum SK tersebut dicabut," ujar perwakilan WALHI Jawa Barat, Iwang, Rabu (6/3).

Hal ini didorong juga Eksekutif Nasional WALHI, Edo Rahman. Dia mengatakan, penurunan status cagar alam menjadi Taman Wisata Alam adalah indikasi yang menunjukkan penurunan kualitas kerja Presiden Jokowi dan Menteri LHK. Penurunan status cagar alam ini, lanjutnya, bisa diindikasikan hanya untuk mengakomodir kepentingan korporasi untuk mengeruk potensi sumber daya alam di cagar alam tersebut.



Koordinator Aliansi Cagar Alam Jawa Barat,
Kidung mengatakan akan terus berupaya mengkampanyekan pencabutan SK tersebut. Dia mengaku akan mendatangi kantong-kantong pecinta alam untuk menyuarakan hal serupa.

"Juga dikantong-kantong masyarakat yang kemungkinan akan terkena dampak perubahan satatus ini. Mereka juga akan membantu melengkapi data-data penguat agar Dirjen KSDAE mempunyai alasan yang kuat  untuk mendorong pencabutan SK ini," tegasnya.

Penutupan Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII

Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII akan ditutup pada hari Jumat, 01 Februari 2019 di Kampus FPTK UPI pukul 15.30 WIB.

Pelantikan akan dilakukan oleh Pimpinan Dekan FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.
Acara ini yang menjadi rangkaian akhir dari tahapan pendidikan dasar Gandawesi.

Mari rapatkan barisan menyambut Anggota Muda Gandawesi KPALH Universitas Pendidikan Indonesia.

Untuk seluruh undangan yang datang, mohon untuk membawa alat minum sendiri!


Siswa Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII sedang melakukan operasi (gandawesi.or.id)

Pendidikan Dasar XXXIII

Undangan upacara penutupan Pendidikan Dasar XXXII

Temu Besar Lapangan Gandawesi

Yuk kita kumpul lagi bersama di acara Temu Besar Lapangan.
Kegiatannya asyik. Sambil bercengkrama mengingat masa lalu di Gandawesi.
Bersama obrolan hangat serta api unggun
Catat tanggal dan waktunya ya!


Temu Besar Lapangan

Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Saat Melakukan Pendakian

Kegiatan di alam terbuka kata kang Yat Lessie seorang tokoh Pecinta Alam dari Jana Buana, mengandung unsur ketidakpastian yang tinggi. Semakin dalam memasuki hutan, semakin tinggi ketidakpastian yang akan muncul. Banyak hal yang tidak dapat diprediksi sebelumnya bisa terjadi. Hal-hal yang di luar nalar manusia maupun yang masih dalam perhitungan nalar bisa menimpa siapa saja. Contoh sederhana yang sering penulis rasakan adalah cuaca, kadang berdasarkan prakiraan cuaca yang terjadi akan cerah tapi kenyataannya malah hujan.

Hal lain misalnya kondisi badan pendaki, pada saat melakukan pendakian di awal, semua baik-baik saja tapi saat mendekati ketinggian, bisa ambruk rubuh. Yah, bisa saja kita menyebutnya sebagai kecapean, kelelahan, dan lain-lainnya tapi kalau badan kekar kemudian kecapean itu rasanya aduhai sekali. Nah, dalam kondisi-kondisi tertentu yang sering terjadi bisa dijelaskan secara medis tapi kejadiannya mungkin bisa menimpa si badan kekar sekalipun misalnya hipotermia, pingsan, kram, dan lain-lain. Hal ini butuh persiapan untuk menghadapinya. Ketidakpastian saat memasuki dalam hutan bisa kita antisipasi dengan berlatih dan terus berlatih. Latihan membuat kita menjadi tenang pada saat menghadapi gejala-gejala-gejala ketidakpastian di alam terbuka.

Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Saat Melakukan Pendakian (gandawesi)

Salah satu bentuk latihan yang penting dilakukan oleh para pegiat alam terbuka adalah Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat atau PPGD atau Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Inilah teknik pertolongan pertama saat pendakian untuk beberapa masalah kesehatan yang umum terjadi:

1. Hipotermia

Pada suhu udara yang sangat rendah di puncak gunung, permasalahan yang biasa terjadi adalah hipotermia. Masalah kesehatan ini merupakan turun drastisnya suhu tubuh dikarenakan lingkungan yang sangat dingin. Gejalanya yaitu gigilan yang hebat, perasaan melayang, pandangan yang buyar dan detak nadi yang lambat.

Penanganan: Pada saat seperti ini, penanganan pertama yang dilakukan adalah dengan membawa si penderita hipotermia ke tempat yang hangat dan beri minuman hangat. Yang perlu diingat, usahakan agar korban tetap tersadar sehingga kita dapat mengetahui bagaimana kondisi yang ia rasakan.

2. Pingsan

Ini terkadang terjadi saat proses pendakian. Daya tahan tubuh yang tidak cukup kuat dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran sementara karena otak kekurangan oksigen, kondisi perut belum cukup terisi, atau terlalu memaksakan diri mengeluarkan banyak tenaga.

Penanganan: Secepat mungkin baringkan korban dalam posisi terlentang dan tinggikan kaki melebihi jantung. Sebisa mungkin buat pernafasannya longgar dengan melepas ikatan ransel atau hal lain yang menganggu pernafasannya. Setelah siuman, beri ia air minum untuk menenangkan diri. Ingat, air minum diberikan setelah korban siuman, jangan berikan saat masih pingsan karena beresiko tersedak.

Pingsan bisa terjadi saat mendaki gunung

3. Kram

Saat mendaki gunung, kinerja kaki menjadi dua kali lipat ketimbang berjalan seperti biasa di tanah yang datar. Pada saat seperti ini, masalah yang umum sering terjadi adalah kram. Tertariknya otot dan terasa kaku menjadi hal yang menghambat perjalanan pendakian kita.

Penanganan: Posisikan kaki korban senyaman mungkin, lalu pijat perlahan telapak kaki korban dan bagian yang terasa kram. Pada bagian yang terasa kram, pijatlah berlawanan arah dengan bagian yang sedang kontraksi. Usahakan jempol kaki korban untuk digerakkan ke depan (seperti menunjuk namun menggunakan jempol kaki).

Kram bisa terjadi saat memanjat tebing 


Pendidikan Dasar XXXII Gandawesi

Pendidikan Dasar XXXII Gandawesi KPALH 


Sila hubungi Komando Diksar untuk mendapatkan informasi seputar Pendidikan Dasar

Potret Gandawesi di Masa Lalu

Apa sih artinya masa lalu buat kamu? Ada orang yang benci masa lalu. Ada yang senang masa lalu. Ada juga yang mempelajari masa lalu. Tak bisa kita ingkari jika masa lalu adalah bagian penting dari diri kita hari ini. Kita bisa sampai hari ini juga karena ada masa lalu. 

Mari kita lihat, kita hadir hari ini setelah kemarin bergiat melakukan aktivitas yang senang atau tidak senang. Lewat sehari saja sudah jadi masa lalu. Kerucutkan lebih kecil lagi, lewat satu jam sudah masa lalu. Bahkan lewat satu menit, satu detik saja sudah menjadi masa lalu. 



Tak bisa dihindari jika masa lalu adalah sesuatu yang penting untuk kita pelajari. Penulis yang juga anggota Gandawesi ini begitu terkagum-kagum dengan masa lalu Gandawesi. Tidak bisa disebut sebagai masa keemasan tapi sebagai masa pelajaran buat kita semua. Keemasan hanya akan membuat silau.

Dulu, hadirnya kembali Buletin Gandwesi juga karena penulis melihat-lihat arsip di lemari Gandawesi kemudian ada potongan-potongan kecil seputar berita, opini, dan karya-karya tulis lainnya. Ya, weblog ini juga hadir karena inspirasi masa lalu. 

Nah, tertarik melihat sisi-sisi lain kegiatan Gandawesi? Ini ada beberapa dokumentasi kegiatan Gandawesi yang dilakukan di masa lalu.





Masa lalu buat dikenang agar saat ini bisa tertawa menertawakan diri sendiri














Pemulihan Bencana Sulteng Semakin Intensif

JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama relawan lainnya semakin mengintensifkan pemulihan bencana di Sulawesi Tengah. Beberapa anggota Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi pun turut membantu pemulihan itu.

"Percepatan pemulihan dampak bencana terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Sabtu (20/10).

Menurutnya, masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26/10/2018. Kini, beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen.



Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen. Beberapa daerah memang aliran listrik belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di  sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

Bahkan, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

Pembersihan puing-puing bangunan terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Sebanyak 14.604 personil gabungan dari TNI, Polri, sipil dan relawan dikerahkan untuk penanganan darurat hingga saat ini. Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

Hingga Sabtu (20/10/2018), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala  171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga.



"Dari 2.113 orang korban meninggal dunia, sudah termasuk 1 orang warga Korea Selatan yang meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa Kota Palu. Tidak benar, adanya berita yang memberitakan 2 orang warga Belanda yang juga menjadi korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan Hotel Roa-Roa," katanya.

Dia mengatakan, tim Posko Kementerian Luar Negeri dan Basarnas sudah menelusuri berita tersebut, bahwa berita tersebut tidak benar. Tim SAR gabungan yang dikoordinasikan oleh Basarnas hanya menemukan 1 jenasah warga negara asing yaitu warga negara Korea Selatan pada 4/10/2018. Tidak ada warga negara Belanda. Pencarian korban di Hotel Roa-Roa juga sudah dihentikan sejak 8/10/2018.

Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian. Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak.

Kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini. Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya. (dju)



Tangis Gandawesi Saat Kunjungi Lokasi Likuifaksi

Beberapa kampung di Palu, Sulawesi Tengah, porak poranda. Warga setempat menyebutnya seperti kertas yang dirobek-robek. Hamparan bumi membelah. Tanah yang tadinya keras melembek. Semua yang ada di permukaannya pun tertelan.

Merekam, mengobservasi langsung di lokasi bencana (Kusmana - gandawesi.or,id)
Hal ini terlihat di Balaroa dan Petobo. Kedua tempat yang kini menjadi kampung mati. Rumah-rumah hancur, bahkan lenyap. Beberapa korban yang selamat menyebutkan, kampung mereka berputar-putar seperti adonan kue yang sedang diaduk. Semua amblas.

Jalanan beraspal menjadi perbukitan. Atap rumah hanya terlihat ujungnya saja. Puing-puing pun berserakan. Di sinilah terjadi tsunami pegunungan. Sebab, kedua kawasan ini cukup jauh dari pesisir namun, semua rumah hancur, termasuk isinya. Tertelan bumi hingga kedalaman 5-10 meter. Biasanya, tsunami hanya menerjang kawasan pesisir.

Lokasi bencana 

Setali tiga uang. Di pesisir Palu pun, tsunami menerjang. Korban meninggal bergelimpangan. Korban luka pun sangat banyak. Tangisan dan rintihan terdengar tanpa henti. Termasuk saat anggota Gandawesi mengunjungi lokasi.

Di Balaroa, bencana likuifaksi menunjukkan kedigdayaannya. Salah satu pendiri Gandawesi KPALH, Kusmana, tak henti-hentinya bertafakur melihat kekuasaan Tuhan. Anggota bernomor GW.0100021.G ini mengajak seluruh anggota Gandawesi untuk terus mengaktualisasi diri ke lokasi bencana.

Kusmana dan tim di lokasi posko bencana yang didirikan (www.gandawesi.or.id)

"Saat di lokasi, gempa setiap hari terjadi. Minimal 4 -7 kali. Suara geemuruhnya mengerikan. Jadi semua orang nggak berani tidur dalam bangunan, semuanya ditenda," ucap Kusmana, dalam pesan singkatnya, kemarin.

Bergabung dengan tim Tower Bersama Peduli, Kusmana berkali-kali melakukan tanggap darurat, rehabilitasi hingga rekonstruksi di lokasi Bencana. Termasuk saat Tsunami Aceh, Gempa Lombok dan kini Tsunami, Gempa dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah.

Kepedulian kita untuk mereka (Kusmana - gandawesi.or.id)

"Kalau tenda khusus pengungsi, saya beli dari Bandung sebanyak 40 unit untuk kapasitas 8 orang. Lalu dibagikan di lokasi Bencana. Ada juga tenda pleton 5 unit untuk dapur umum dan trauma healing" ucapnya.

Lokasi bencana (Kusmana - gandawesi.or.id)

Aktualisasi Organisasi

Kusmana pun pernah bertemu dengan anggota Gandawesi lainnya, Mohammad Ilham (GW.25.195.T) di lokasi. Ilham berangkat ke Palu bersama tim evakuasi KBPA Bandung Raya. Keduanya punya peran masing-masing untuk memulihkan Palu seperti sediakala.

"Senang sekali, Gandawesi banyak beredar. Tapi secara organisasi, kita belum perlu berbangga. Sebab, relawan dan LSM lain jauh lebih gila perjuangannya. Kita masih perlu membuka jendela wawasan kita. Tujuannya agar organisasi kita senantiasa bisa mengaktualisasikan diri dengan perkembangan organisasi lain," ungkapnya.


Menangani Masalah Lingkungan Di Lokasi Bencana

Dalam keadaan darurat seperti bencana, semua hal dilakukan secara praktis. Makan nasi bungkus, tidur di tenda pengungsian, atau cukup beralaskan koran beratap langit. Baju sehelai pun terus dipakai berhari-hari. Bisa diganti jika sempat dan membawa baju cadangan.


Pembangunan sarana di lokasi bencana (Kay 20018)

Saat bencana datang, beragam bantuan pun silih berdatangan. Terutama makanan, pakaian, medis, hingga hunian sementara. Kebutuhan pokok yang mesti ada selagi lokasi bencana belum pulih. Sebab, di lokasi bencana ini korban dan relawan berbaur satu sama lain.

Namun penanganan bencana bisa jadi sumber bencana jika semua salah urus. Seringkali, relawan yang berdatangan fokus menangani soal evakuasi, dapur umum, hingga trauma healing bagi para korban. Padahal, masalah kesehatan lingkungan (sanitasi) di lokasi bencana pun penting untuk jadi perhatian.

Sebagai Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH), Gandawesi berupaya turut menangani masalah lingkungan di sekitar bencana. Salah satunya soal limbah yang dihasilkan korban dan relawan. Jika limbah berupa kotoran manusia ini tak dikelola dengan baik, bencana pun siap menerjang kapan saja. 

Bakteri Escherichia coli (E.coli), salah satu bakteri yang terdapat pada tinja manusia, bisa mencemari lingkungan sekitarnya. Rizky T Siregar, anggota KPALH Gandawesi FPTK UPI, bersama komunitas Sahabat Peduli Indonesia terjun langsung ke lokasi bencana gempa dan tsunami Palu.

Anggota bernomor GW 19.157.AH ini turut membantu membangun 28 unit toilet darurat di Balaroa dan Palu. Lokasi bencana yang masih minim sanitasi bagi korban dan relawan. Dari 28 unit toilet ini akan terus ditambahkan sesuai kebutuhan. Mereka dibantu TNI membuat toilet darurat. Alat berat dan tenaga kerja pun sigap dikerahkan untuk mempercepat proses pembangunan.

Kolaborasi dengan berbagai pihak seperti TNI (Kay 2018)

"Tim dari Komunitas Sahabat Peduli Indonesia terjun langsung ke daerah pengungsian. Kami temukan toilet dan air bersih belum memadai. Di sekitar tenda pengungsian, maaf, banyak kotoran. Kalau dibiarkan akan menjadi bencana susulan. Yaitu sumber penyakit  menular," ujar perempuan yang akrab disapa Kay, di lokasi bencana.

Bagi yang akan menyalurkan bantuan untuk korban bencana Palu, bisa dikirimkan melalui ke REK BCA, a.n Rizki Siregar : 4551301049. Bagi yang sudah mengirimkan bantuan, mohon konfirmasi dengan mengirimkan bukti/struk donasi ke no WA: 08819986561, e-mail: info@matrastudio.com, IG : @matra.studio, atau FB: matrastudio.

Donasi akan disalurkan melalui komunitas Sahabat Peduli Indonesia, yang fokus membangun MCK, keperluan air bersih dan rehabilitasi sekolah untuk Palu.




 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes