BREAKING NEWS

Fotografi

Lingkungan

FPTK

Perjalanan Organisasi Pecinta Alam dan Bagaimana Ke Depannya!

Pecinta Alam di Indonesia semakin banyak. Di setiap daerah hampir rata-rata memiliki organisasi pecinta alam. Baik untuk lingkungan perumahan, komplek, maupun lintas daerah. Semangat yang menyatukannya rupa-rupa, dari mulai kesenangan yang sama, hobi yang sama, yakni mendaki gunung sampai organisasi pecinta alam yang dibangun dengan idealisme untuk lingkungan hidup.
Di kampus-kampus pun demikian, semakin menjamur organisasi pecinta alam baik di tingkat jurusan, fakultas, sampai universitas. Untuk yang sudah lama berdiri, mereka tetap menyebarkan semangat menjadi organisasi pecinta alam yang bersaudara dengan organisasi pecinta alam di manapun.

Namun seiring dengan bertambahnya bentuk kegiatan, prestasi serta prestise meningkat, ternyata banyak sekali perhimpunan pencinta alam yang ada sekarang tidak mengetahui sejarah asal-usul pencinta alam itu sendiri. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang ia cintai, apakah mungkin akan tumbuh rasa cinta pada sesuatu tersebut? Hal ini mengakibatkan banyaknya perhimpunan pencinta alam yang hanya sekedar mengusung simbol-simbol serta kebanggaan dengan memasang berbagai atribut atau aksesoris agar nampak seperti pencinta alam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan hal itu.

Padahal di awal kehadirannya, organisasi yang “lahir” di atas kemelut politik ini telah memiliki visi dan misi yang jelas, yang paling sederhana adalah dalam pembentukan character building. Di salah satu artikelnya yang berjudul Menaklukkan Gunung Slamet yang terangkum dalam buku Zaman Peralihan. Soe Hok Gie (Alm.) menulis seperti ini, “….Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya, dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. “Libur ini kami ingin mendaki gunung yang berat.” Kami terangkan kepada mereka.

Gandawesi KPALH sebagai organisasi pecinta alam

Berdasarkan tulisan di atas, almarhum memahami benar bahwa orang yang bergerak dalam kegiatan outdoor seperti ini umumnya memiliki kemampuan fisik, sikap serta intele-gensia yang baik. Dan itu jelas merupakan modal yang bagus untuk pembangunan. Namun yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Banyak yang mengklaim dirinya pencinta alam tetapi dalam kegiatan sebenarnya justru malah merusak alam. Apakah ini bukan salah kaprah namanya ?

Asal-usul Pencinta Alam

Kelahiran pencinta alam di Indonesia memang tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulannya. Namun yang jelas, cikal bakal kegiatan ini mulai hadir sekitar tahun 60-an. Konon, istilah pencinta alam itu sendiri pertama kali dikenalkan oleh (Alm) Soe Hok Gie, salah satu pendiri Mapala UI. Namun penulis sendiri yakin, bahwa almarhum tidak akan pernah menyangka bila istilah yang diperkenalkannya itu kelak akan masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia, karena awal kehadirannya pun “Cuma” sebuah rangkaian kecil dari sejarah politik Indonesia pada saat itu. Ketika Presiden Soekarno semakin terpengaruh oleh Partai Komunis Indonesia, atmosfir politik di Indonesia otomatis terpecah menjadi dua. Satu pihak yang berada di belakang Soekarno menyebut dirinya sebagai kelompok revolusioner, sementara pihak yang tidak sejalan dengan garis kebijaksanaan Soekarno dianggap kelompok kontra-revolusioner atau kelompok reaksioner. Ternyata, kondisi seperti itu merambah pula dalam dunia kampus. Mahasiswa ikut-ikutan terpecah menjadi dua, yaitu kelompok mahasiswa revolusioner dan kontra-revolusioner.

Di antara kelompok mahasiswa yang saling berseberangan itu, ada juga kelompok mahasiswa yang bersikap netral meskipun lokal sifatnya. Di Jakarta, ada kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) serta Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD). Di Bandung sendiri organ­isasi mahasiwa yang bersikap netral adalah Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) dan Corps Studioso­rum Bandungense (CBS).

Gandawesi KPALH

Pertentangan antara dua kelompok mahasiswa itu kian hari kian menguat frekuensinya. Masing-masing berusaha untuk saling mempengaruhi dan saling menjegal satu sama lain. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kemelut politik yang sebenarnya akar permasalahannya justru berada di luar kampus itu mulai “menyerang” ke dalam fakultas, tak terkecuali Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) harus terkena pula imbasnya. Sampai-sampai dalam pemilihan ketua senat pun, para kandidat yang muncul adalah mahasiswa-mahasiswa yang membawa bendera-bendera organisasi tertentu. Namun ternyata, tekanan dari kelompok revolusioner kian lama kian menguat, dan kelompok yang netral justru malah semakin terjepit diantara kekuatan-kekuatan tersebut.

Dalam kondisi terjepit seperti itu, kelompok netral yang berada di FSUI mencoba untuk “menggeliat” dengan melakukan serangkaian kegiatan-kegiatan. Baik itu di lingkungan kampus maupun di luar. Kelompok yang semakin hari semakin banyak peminatnya itu mulai “melawan” dengan caranya sendiri. Seperti; menyelenggarakan diskusi, memutar film dan kegiatan lainnya. Sementara untuk kegiatan luarnya, mereka selalu memiliki agenda untuk menyelenggarakan perjalanan bersama ke gunung-gunung maupun ke dusun-dusun sepi. Rasa senasib sepenanggungan dalam perjalanan, terkucil dari “keramaian” politik serta rasa terpencil itulah yang membuat mereka bersama-sama untuk “berkeluh kesah” pada Sang Pencipta. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang tidak rela almamaternya (FSUI) dijadikan ajang pertarungan politik guna kepentingan luar. Kemudian kelompok ini menamakan diri sebagai pencinta almamater. Selain dimotori oleh (Alm) Soe Hok Gie, juga ada Herman O. Lantang, Asminur Sofyan Udin, Edi Wuryantoro serta Maulana.
Pemanjatan tebing oleh Gandawesi KPALH

Dalam skala kecil, hikmah yang bisa diambil oleh mereka adalah mendapatkan kawan yang senasib-sepenanggungan sementara untuk lingkup yang luasnya, yaitu bahwa ternyata untuk mencintai dan mem­bangun negara tercinta tidak selalu harus dengan cara berpolitik. Masih ada cara lain selain saling “sikut-menyikut” guna kepentingan penguasa, mendaki gunung, misalnya.

Atas dasar pengalaman serta penderitaan itulah yang kelak kemudian menjadi cikal-bakal organisasi yang untuk pertama kalinya menggunakan istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Prajnaparamita, sendiri adalah lambang jati diri dari FSUI yang berarti dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam mitologi India, karena memang pada saat itu Mapala hanya milik FSUI. Baru pada tahun 1971, ketika Mapala resmi menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa di UI, maka para pendirinya dengan tulus melepaskan hak atas nama Prajnaparamita itu.
Perjalanan laut Gandawesi KPALH

Pada perkembangan selanjutnya, ketika organisasi seperti itu mulai menjamur, para “elite” pencinta alam di tanah air mulai merasakan bahwa sudah tiba waktunya dibentuk suatu kode etik bagi pencinta alam. Setelah beberapa tahun dirumuskan, baru pada Gladian ke-IV lah kode etik bagi pencinta alam dikumandangkan di Ujungpandang.

Antara Lalu dan Kini : Hakekat Yang Telah Tergeser

Berdasarkan kisah di atas, jelaslah kiranya bahwa fenomena kelahiran pencinta alam di Indonesia pada mulanya hanya didasari oleh sikap “perlawanan” dan hasil “kontemplasi” dari sekelompok mahasiswa FSUI terhadap establishment (kemapanan) atau bisa jadi juga aktualisasi dari sikap escapisme (pelarian) dikarenakan rasa tidak berdaya, aliensi dan anomi. Dalam lingkup kegiatannya, idealisme memang diwujudkan di sini. Sampai sekarang pun, idealisme itu masih tetap terpelihara dengan tidak berdirinya organisasi pencinta alam baik itu yang berada di SMU, universitas maupun yang berdiri sendiri pada satu kekuatan atau warna politik tertentu. Karena sampai saat ini, belum pernah kita dengar ada organisasi pencinta alam yang demo kepada pemerintah menuntut “jatah” kursi di DPR.

Namun setelah lima puluh tahun berlalu, idealisme dari makna serta hakekat pencinta alam itu sendiri semakin luntur. Kode etik yang diikrarkan pada tahun 1974 kini hanya menjadi slogan belaka atau sekedar lips service saja, karena itu baru akan dikumandangkan pada saat kode etik itu memang perlu dibacakan. Misal; tiap diselenggarakannya Diklatsar. Tapi ironisnya, hal itu tidak masuk pada perilaku kehidupannya sehari-hari.

Kalau sudah begini, maka urusan pelestarian alam yang jelas-jelas tertuang pada kode etik tersebut hanya menjadi omong kosong belaka. “Penyakit” seperti itu kian waktu semakin merasuk di kalangan para pencinta alam. Akibatnya adalah semakin banyaknya para pencinta alam yang tidak menyadari keberadaan dirinya. Padahal seharusnya mereka memiliki point yang lebih daripada orang-orang yang tidak pernah/belum memasuki organisasi pencinta alam, khususnya soal kesadaran dan kepedulian lingkungan hidup. Bukankan inti dari kode etik itu adalah soal kesadaran akan alam dan upaya manusia untuk mencintai alam? Yang berarti pula mencoba untuk mencintai Sang Pencipta lewat kegiatannya tersebut.

Sebagai bagian dari suatu masyarakat yang lebih besar, sudah saatnya kalangan pencinta alam tidak menutup diri dari perkembangan yang terjadi di luar dirinya. Dari tahun ke tahun, organisasi semacam ini dituntut untuk terus berpartisipasi aktif guna mengisi pembangunan di tanah air. Karena memasuki abad 21 ini, pilihan yang berada di depan hidung para pencinta lam sudah semakin banyak dan kompleks sementara makna serta hakekat dari pencinta alam itu sendiri sebagai pelestari alam telah semakin kabur jauh, entah kemana.

Sepertinya, sudah tiba saatnya organisasi para pencinta alam “bersatu” kembali guna mengembangkan ide serta bentuk kegiatan yang bermanfaat dalam bentuk yang konkrit. Hal ini bukan saja buat dirinya tetapi juga buat masyarakat, tempat dimana golongan ini hidup dan berkembang . Terutama sekali buat “Ibunda” kita sendiri, yaitu alam terbuka, tempat dimana kita bermain dan berkegiatan. (diolah dari berbagai sumber)

Rapat Anggota Tahunan Gandawesi KPALH

Gandawesi KPALH kembali mengadakan kegiatan tahunan yakni Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai bagian dari proses melanjutkan roda organisasi.
Dalam Rapat Anggota Tahunan ini dibahas hal-hal penting dan strategis seputar arah organisasi ke depan.



Inilah informasi umum tentang Rapat Anggota Tahunan ini.



Seminar Mitigasi Bencana


Dalam waktu singkat umat manusia telah mengganti semuanya dengan teknologi. Membuat semuanya menjadi mudah dan sederhana, tanpa mempedulikan akibat dari sebuah inovasi yang mengagumkan. Mahasiswa Pecinta Alam Gandawesi Fakultas Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan seminar Mitigasi Bencana dengan tema: "Peran Mahasiswa Teknik dalam Mitigasi Bencana" yang akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal: Jumat, 24 Mei 2019

Waktu: 15.40-selesai

Tempat: Auditorium FPTK UPI Lt. 5 


Pembicara:

-WALHI

-BNPB


Fasilitas:

-E-sertifikat

-Ilmu yang bermanfaat


Contact Person:

085872515497 (Fikri)


GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM

Mendaki Bersama Anak

Tidak mudah mendaki gunung sendiri apalagi bersama anak. Butuh kesabaran dan ketabahan ekstra untuk membersamai si buah hati dari awal sampai puncak dan kembali lagi ke rumah dengan selamat.

Anggota Gandawesi, Matt Danro, angkatan Elang Rimba membuat catatan menarik seputar perjalanan bersama anak yang ia lakukan pada beberapa gunung. Salah satunya gunung Gede Pangrango. 

Inilah sekilah refleksi akhir perjalanan bersama anaknya. 

"Embun ketinggian"

Bingung apa yang harus saya tulisl, lagi-lagikesekian kalinya Aa Bumi ikut Mendaki

Berjalan berjam jam di hutan yang sedang di guyur hujan kabutpun turun sepanjang perjalanans sehinggamembuat pijakan menjadi licin dan kotor

Terkadang ada rasa khawatir ketika Aa pengen ikut.

jangankan bawa anak, bawa badan dan beban sendiri pun sangatlah berat ketika berada di alam

tapi semuanya sudah dipikirkan dan di siapkan matang-matang. Tak lupa selalu berdoa semoga Allah SWT Masih berkehendak pada perjalanan kami memberikan kesehatan, keselamatan dan kebahagian kepada kami yang suka bermain di alam bebas.

Semua orang bisa melakukannya seperti kamiw, walaupun tidak mudah lagi-lagi proses perjalanan nya yang saya syukuri

Karena di situlah momen dimana banyak cerita dan duka.Tapi kami selalu bahagia melewatinya bersama

Walau terkadang banyak hal yang tidak terduka

Kami selalu bahagia

Karenabahagia sehat


Gn. Gede Via gn Putri

01-02 Mei 2019



Sancang 1985

Jangan bayangkan Sancang tahun 2019 atau tahun 2000-an. Tahun 1985, Sancang adalah sebuah tempat yang sangat asri. Sulit dijangkau dengan kendaraan dan aroma mistis masih sangat kuat.

Ini sekelumit kisah perjalanan Gandawesi ke Kawasan Konservasi Sancang pada tahun 1985 yang ditulis oleh M.Y. Nusabela, seorang anggota Gandawesi angkatan pertama yang bernama Gumuruh. 

"Kangen aneka Fresh Seafood, Rajungan, kepiting, mata lembu, gurita (octopusi), ikan pari, ikan kue, ikan ayam ayaman, geulang oray, hejo tonggong (nama lokal), mata sebelah, dan yang paling mantap udang lobster diatas 800 gram/ekor dengan mudahnya kami dapatkan, dengan dibantu oleh Kang Madjid seorang warga dari kampung Cibalieur. Sehingga selama 4 hari 3 malam kami benar-benar menikmati kekayaan alam Nusantara. Bahkan di muara sesekali kami mancing dapat ikan air tawar yang besar besar. 

Sayang sekali di hari ke 4 kami harus mengevakuasi Kang Ridwan Ralibi ke PUSKESMAS Miramare di Desa Sancang. Milik PTP. Mira Mare, dikarenakan mata merah bengkak, pipi tembem, mulut dower, sebadan badan penuh dengan kaligata. Ternyata dia alergi seafood.

#LeuweungSancang1985

Feminisme Pecinta Alam

Apa sih Feminisme itu?

Kenapa sih ada Feminisme?

Apa sih kaitannya sama Pecinta Alam?


Punya pertanyaan pertanyaan seperti di atas?

Atau punya pertanyaan lain terkait Feminisme?

Memperingati Hari Kartini,

Gandawesi mempersembahkan:

*Diskusi*

>> *FEMINISME PECINTA ALAM *<<


🎊 MINGGU, 21 APRIL 2019

📌 TAMAN BARETI, KAMPUS UPI

⏰ 15.30 - 18.00 WIB

FREE ENTRY

Terbuka untuk umum!

Mau muda, mau tua, mau pria, mau wanita.

Include:

1. Pemahaman

2. Silaturahmi

3. Konsumsi


CP:

📞 +62 838 22060935 (Annida)

📞 +62 838 75145578 (Anisa)


Yuk Ah Kita Berlatih Bareng!

Tidak ada Gandawesi yang terlatih! 

Yang ada Gandawesi yang terus berlatih!

Slogan umum ini banyak dijadikan sebagai penyemangat bagi para pegiat organisasi pecinta alam di mana pun.

Sesi latihan rutin kali ini tentang Rigging, SRT, Variasi Lintasan, dan Self rescue.

Selepas itu, mari kita ngopi!

Catat tanggal dan jam waktunya!

Sabtu, 13 April 2019 di Parkiran depan FPTK UPI 

Sekretariat Gandawesi!

Dipersembahkan oleh Bandung Speleological Activities


Mendaki Bersama Pulang Bersama

Mendaki gunung kini semakin diminati banyak orang. Harus diakui sejak era media sosial, keinginan orang-orang untuk mendaki gunung seolah tidak pernah padam. 

Kehadiran film 5 Cm misalnya, begitu menyedot perhatian banyak orang untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Banyak yang berhasil tapi tidak sedikit pula yang menyisakan cerita tragis sesudahnya. Cerita sukses mah mungkin biasa tapi cerita tragis selalu menjadi sensasi untuk para pencari berita.

Dahulu, tidak sembarang orang bisa mendaki gunung. Selain keterampilan yang harus dikuasi juga peralatan yang sangat mahal dan sulit didapatkan. Orang-orang yang masuk organisasi pecinta alam rerata yang bisa melakukan pendakian gunung. Selain terlatih juga peralatan memadai untuk mendaki gunung. 

Para pecinta alam melakukan latihan rutin baik fisik mental dan pengetahuan untuk mendaki gunung. Alhasil, pendakian bisa berjalan dengan lancar dan pulang dengan selamat. Ada juga yang mengalami kecelakaan diluar kekuasaan manusia. Maksudnya terlatih iya, peralatan yang dibawa juga oke tapi tetap saja ada faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang terkena bencana di gunung.

Masih ingat dalam benak penulis tentang tiga orang pendaki gunung Tampomas yang meninggal dalam tenda dengan peralatan seadanya dan perbekalan seadanya pula. Serang hipotermia bisa menyerang siapa saja di atas gunung. Maka, kesiapan mental mengetahui segala gejala yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa mutlak harus dikuasai oleh pendaki gunung. 

Silakan ikuti kursus atau pelatihan mendaki gunung dengan baik sebelum melakukan pendakian seperti Sekolah Pendaki Gunung yang dilaksanakan oleh Wanadri atau perhimpunan pecinta alam lainnya untuk mengetahui teori dan praktek seputar pengetahuan mendaki gunung dengan aman.

Di Gandawesi, melakukan pendakian gunung itu terkadang rasanya harus ribet sekali. Persiapan ini itu dicek dengan teliti. Kalau ada yang kurang satu saja, harus dipenuhi saat itu juga. Kalau enggak, risiko tidak bisa berangkat mendaki gunung. 

Selalu ingat dengan jargon "Pergi bersama pulang bersama" ini sangat dalam makna dan filosofinya. Kepulangan dan kepergian harus menjadi perhatian karena titik awal suksesnya sebuah pendakian bukan hanya sampai di puncak gunung lalu mengibarkan bendera penuh kebanggaan tapi pulang bersama-sama dalam keadaan utuh. 

Jadi! Mari kita mendaki gunung bersama-sama. Pergi bersama pulang bersama!

Temu Wicara Anggota Muda FKPPA Universitas Pendidikan Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, di Bandung Utara tepatnya di kawasan Bumi Perkemahan Bukit Unggul, Kelompok Pecinta Alam se-UPI mengadakan acara TWAM atau Temu Wicara Anggota Muda.

TWAM selalu spesial diadakan oleh FKPPA (Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam) UPI setelah setiap Perhimpunan beres mengadakan Pendidikan Dasar.

Namanya silaturahmi antar anggota muda dan kadang juga anggota tua (anggota biasa dan anggota luar biasa) maka kegiatan TWAM selalu berisi hal-hal yang sangat asyik. 

Obrolan hangat mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Ditemani secangkir kopi, seonggok api unggun dan segudang cerita hangat. Obrolan santai yang terkesan mengendurkan urat saraf setelah Pendidikan Dasar yang sangat menegangkan. 

TWAM bukan TWKM ya! TWKM itu Temu Wicara dan Kenal Medan. Pada beberapa kesempatan penulis sering diundang untuk hadir di acara TWKM seperti waktu kegiatan di Jogja, Padang, dan tempat lainnya namun belum berjodoh. Alhasil, TWKM tidak hadir ya TWAM saja. Cukup mengobati kerinduan berkumpul dengan para anggota perhimpunan pecinta alam dari mana pun. 

Selain tentu saja kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam yang selalu ditunggu kehadirannya oleh semua pegiat kegiatan luar ruangan atau outdoor. Tentang Gladian Nasional Pecinta Alam, penulis punya pengalaman menarik terutama dalam berinteraksi dengan anggota perhimpunan pecinta alam se-Indonesia. Hal yang sangat menginspirasi dan mudah-mudahan di lain waktu bisa menuliskannya.

Di lokal Bandung, kegiatan kolaborasi perhimpunan pecinta alam ini diwadahi oleh Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya atau FKKBPA BR yang secara bergilir menjadi pengurus atau anggota. Banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh FKKBPA BR ini untuk menyatukan visi dan misi berorganisasi dengan baik. Misalnya saresehan pecinta alam, latihan gabungan, penggalangan sumber daya untuk korban bencana alam, dan masih banyak lagi.

Kembali ke TWAM yang sudah dilaksanakan secara rutin baik dalam bentuk yang sederhana misalnya diadakan di salah satu tempat atau sekretariat salah satu perhimpunan pecinta alam di UPI juga kadang dilakukan di luar. 

Nah, inilah rangkaian dokumentasi kegiatan TWAM 2019 di Bukit Unggul.


Penelusuran Gua Oleh Anggota Muda Hima Chandra

Selepas kegiatan pendidikan dasar Gandawesi, selanjutnya adalah kegiatan pengambilan nomor induk anggota. Berbagai kegiatan dilakukan secara mandiri oleh Anggota Muda. Kegiatan terbaru adalah penelusuran Gua di Pangandaran. Ini adalah harapan anggota muda selepas melakukan kegiatan penelusuran gua.

Sudah tanggal 7 Maret nih, itu berarti, kegiatan Hicaveology dari Anggota Muda Hima Chandra sudah selesai!

Pertama, kami mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Salah satunya ada dari @cavingtasik yang telah mendampingi kami selama di lapangan.

Kedua, kami harap kegiatan kami ini menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi semua pihak yang kami tuju.

Ketiga, di sini kami merilis beberapa foto dari kegiatan fotografi gua ini. Masih banyak loh hasil hasil yang gak kalah keren dari ketiga foto ini. Penasaran? Ikuti terus ceritanya di sini.

Dokumentasi kegiatan:


#hicaveology #himachandra #gandawesikpalh #mainbarenggandawesi #ekspedisi #ekspedisixxxi

Refleksi Hari Konservasi

Kita telah menggunakan sumber daya alam pada tingkat yang sangat cepat, menguras sumber daya alam tanpa memikirkan akibat untuk generasi selanjutnya, kerusakan hutan dan penebangan pohon telah menyebabkan erosi tanah, hilangnya kesuburan tanah dan berdampak banjir yang sangat sering terjadi.

Kita telah boros menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keinginan dan kenikmatan yang hanya sesaat. 

Dampaknya pemanasan global, iklim dan cuaca yang tidak menentu. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan? 

Tepat 6 Maret 2019 adalah hari strategi konservasi se-Dunia. 

Cukup sehari kita selamati hari konservasi ini, sisanya mari kita selamatkan wilayah konservasi untuk melindungi dan menjaga keanekaragaman hayati. 

Menyinggung isu yang hangat tentang penurunan status kawasan dari cagar alam menjadi wisata alam para aktivis lingkungan hidup telah menyampaikan aspirasinya dan turun ke jalan dengan aksi long march bandung-jakarta menuju kementerian LHK untuk mengajukan keberatan dan penolakan terhadap SK 25/MENLHK/SETJEN/PLA2/1/2018 tertanggal 10 Januari 2018.

Di sisi lain berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam.

Mari kita melakukan gerakan reboisasi untuk meningkatkan oksigen di lingkungan dan mengurangi erosi.

Ketika memakai produk elektronik beli produk yang hemat energi dengan memulai menggukan energi terbarukan untuk menjaga cadangan energi. 

gunakan barang yang ramah lingkungan, mengatur pemakaian air, membuang sampah pada tempatnya dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. 

Tentunya pola hidup reduce reuse dan recycle harus terus kita terapkan. 

Dalam rangka mengurangi pemanasan global ayo kita mulai dari diri kita dan mengajak orang orang di sekitar.


Refleksi Hari Konservasi ditulis oleh Ismail Soleh

Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Harga Mati


JAKARTA-Beragam elemen masyarakat dari Jawa Barat yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam Jawa Barat melakukan menolak perubahan status Cagar Alam Kamojang dan Cagar Alam Gunung Papandayan menjadi Taman Wisata Alam. Mereka langsung melakukan long march dari titik nol kota Bandung ke kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta untuk menyuarakan itu.

Bersama aktivis lainnya, mereka menuntut Menteri Siti Nurbaya Bakar untuk mencabut Keputusan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA.2/1/2018 tentang Perubahan Fungsi dalam Fungsi Pokok Kawasan Hutan dari sebagian Cagar Alam Kamojang seluas ±2.391 hektare dan Cagar Alam Gunung Papandayan seluas ±1.991 ha menjadi Taman Wisata Alam (TWA), terletak di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tertanggal 10 Januari 2018.

Tuntutan pencabutan ini diajukan karena, Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan Cagar Alam melanggar atau bertentangan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan melanggar RTRW Nasional.  Perubahan status ini juga tidak melibatkan umum, pihak-pihak yang berkepentingan, masyarakat, organisasi lingkungan hidup, dan kelompok masyarakat sadar kawasan, seperti yang diharuskan Undang-Undang 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Selain itu, perubahan status cagar alam menjadi Taman Wisata Alam ini akan merusak Danau Ciharus, danau purba yang terletak di Cagar Alam Kamojang. Danau Ciharus ini menjadi sumber air sungai Citarum dan Cimanuk, kedua sungai ini termasuk sungai yang sangat penting bagi kehidupan warga Bandung Selatan.

Hutan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan menjadi kawasan yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan dan kehidupan di Bandung Selatan setelah Bandung Utara jadi “hutan beton”. Banjir badang Garut tahun 2016 yang sangat mengerikan bagi lingkungan maupun kemanusiaan itu salah satunya disebabkan oleh rusaknya lingkungan di kawasan penyangga Cagar Alam Kamojang dan Papandayan. Penolakan perubahan satatus ini juga menjadi upaya penyelamatan Bandung Selatan sebagai Benteng Terakhir Paryahiangan Selatan.


Sedikitnya ada 20 aktivis yang diterima Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE KLHK), Wiratno. Dalam pertemuan itu, Wiratno berjanji akan menyampaikan tuntutan massa langsung kepada Menteri LHK, Siti Nurbaya.

Salah satu poin yang disampaikan dalam pertemuan itu, pecinta lingkungan hidup akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga titik di Kamojang dan Papandayan. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada aktivitas dalam kawasan. Wiratno juga berjanji akan melakukan komunikasi langsung dengan aliansi untuk meng-update perkembangan tuntutan massa aksi.

"Kurang puas, karena target utama aksi adalah menteri mencabut SK 25/2018. Akan tetapi perjuangan Aliansi Cagar Alam Jawa Barat tidak akan berhenti sebelum SK tersebut dicabut," ujar perwakilan WALHI Jawa Barat, Iwang, Rabu (6/3).

Hal ini didorong juga Eksekutif Nasional WALHI, Edo Rahman. Dia mengatakan, penurunan status cagar alam menjadi Taman Wisata Alam adalah indikasi yang menunjukkan penurunan kualitas kerja Presiden Jokowi dan Menteri LHK. Penurunan status cagar alam ini, lanjutnya, bisa diindikasikan hanya untuk mengakomodir kepentingan korporasi untuk mengeruk potensi sumber daya alam di cagar alam tersebut.



Koordinator Aliansi Cagar Alam Jawa Barat,
Kidung mengatakan akan terus berupaya mengkampanyekan pencabutan SK tersebut. Dia mengaku akan mendatangi kantong-kantong pecinta alam untuk menyuarakan hal serupa.

"Juga dikantong-kantong masyarakat yang kemungkinan akan terkena dampak perubahan satatus ini. Mereka juga akan membantu melengkapi data-data penguat agar Dirjen KSDAE mempunyai alasan yang kuat  untuk mendorong pencabutan SK ini," tegasnya.

Penutupan Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII

Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII akan ditutup pada hari Jumat, 01 Februari 2019 di Kampus FPTK UPI pukul 15.30 WIB.

Pelantikan akan dilakukan oleh Pimpinan Dekan FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.
Acara ini yang menjadi rangkaian akhir dari tahapan pendidikan dasar Gandawesi.

Mari rapatkan barisan menyambut Anggota Muda Gandawesi KPALH Universitas Pendidikan Indonesia.

Untuk seluruh undangan yang datang, mohon untuk membawa alat minum sendiri!


Siswa Pendidikan Dasar Gandawesi XXXII sedang melakukan operasi (gandawesi.or.id)

Pendidikan Dasar XXXIII

Undangan upacara penutupan Pendidikan Dasar XXXII

Temu Besar Lapangan Gandawesi

Yuk kita kumpul lagi bersama di acara Temu Besar Lapangan.
Kegiatannya asyik. Sambil bercengkrama mengingat masa lalu di Gandawesi.
Bersama obrolan hangat serta api unggun
Catat tanggal dan waktunya ya!


Temu Besar Lapangan

Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Saat Melakukan Pendakian

Kegiatan di alam terbuka kata kang Yat Lessie seorang tokoh Pecinta Alam dari Jana Buana, mengandung unsur ketidakpastian yang tinggi. Semakin dalam memasuki hutan, semakin tinggi ketidakpastian yang akan muncul. Banyak hal yang tidak dapat diprediksi sebelumnya bisa terjadi. Hal-hal yang di luar nalar manusia maupun yang masih dalam perhitungan nalar bisa menimpa siapa saja. Contoh sederhana yang sering penulis rasakan adalah cuaca, kadang berdasarkan prakiraan cuaca yang terjadi akan cerah tapi kenyataannya malah hujan.

Hal lain misalnya kondisi badan pendaki, pada saat melakukan pendakian di awal, semua baik-baik saja tapi saat mendekati ketinggian, bisa ambruk rubuh. Yah, bisa saja kita menyebutnya sebagai kecapean, kelelahan, dan lain-lainnya tapi kalau badan kekar kemudian kecapean itu rasanya aduhai sekali. Nah, dalam kondisi-kondisi tertentu yang sering terjadi bisa dijelaskan secara medis tapi kejadiannya mungkin bisa menimpa si badan kekar sekalipun misalnya hipotermia, pingsan, kram, dan lain-lain. Hal ini butuh persiapan untuk menghadapinya. Ketidakpastian saat memasuki dalam hutan bisa kita antisipasi dengan berlatih dan terus berlatih. Latihan membuat kita menjadi tenang pada saat menghadapi gejala-gejala-gejala ketidakpastian di alam terbuka.

Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Saat Melakukan Pendakian (gandawesi)

Salah satu bentuk latihan yang penting dilakukan oleh para pegiat alam terbuka adalah Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat atau PPGD atau Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Inilah teknik pertolongan pertama saat pendakian untuk beberapa masalah kesehatan yang umum terjadi:

1. Hipotermia

Pada suhu udara yang sangat rendah di puncak gunung, permasalahan yang biasa terjadi adalah hipotermia. Masalah kesehatan ini merupakan turun drastisnya suhu tubuh dikarenakan lingkungan yang sangat dingin. Gejalanya yaitu gigilan yang hebat, perasaan melayang, pandangan yang buyar dan detak nadi yang lambat.

Penanganan: Pada saat seperti ini, penanganan pertama yang dilakukan adalah dengan membawa si penderita hipotermia ke tempat yang hangat dan beri minuman hangat. Yang perlu diingat, usahakan agar korban tetap tersadar sehingga kita dapat mengetahui bagaimana kondisi yang ia rasakan.

2. Pingsan

Ini terkadang terjadi saat proses pendakian. Daya tahan tubuh yang tidak cukup kuat dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran sementara karena otak kekurangan oksigen, kondisi perut belum cukup terisi, atau terlalu memaksakan diri mengeluarkan banyak tenaga.

Penanganan: Secepat mungkin baringkan korban dalam posisi terlentang dan tinggikan kaki melebihi jantung. Sebisa mungkin buat pernafasannya longgar dengan melepas ikatan ransel atau hal lain yang menganggu pernafasannya. Setelah siuman, beri ia air minum untuk menenangkan diri. Ingat, air minum diberikan setelah korban siuman, jangan berikan saat masih pingsan karena beresiko tersedak.

Pingsan bisa terjadi saat mendaki gunung

3. Kram

Saat mendaki gunung, kinerja kaki menjadi dua kali lipat ketimbang berjalan seperti biasa di tanah yang datar. Pada saat seperti ini, masalah yang umum sering terjadi adalah kram. Tertariknya otot dan terasa kaku menjadi hal yang menghambat perjalanan pendakian kita.

Penanganan: Posisikan kaki korban senyaman mungkin, lalu pijat perlahan telapak kaki korban dan bagian yang terasa kram. Pada bagian yang terasa kram, pijatlah berlawanan arah dengan bagian yang sedang kontraksi. Usahakan jempol kaki korban untuk digerakkan ke depan (seperti menunjuk namun menggunakan jempol kaki).

Kram bisa terjadi saat memanjat tebing 


 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes