BREAKING NEWS

Fotografi

Lingkungan

FPTK

Pendidikan Dasar XXXII Gandawesi

Pendidikan Dasar XXXII Gandawesi KPALH 


Sila hubungi Komando Diksar untuk mendapatkan informasi seputar Pendidikan Dasar

Potret Gandawesi di Masa Lalu

Apa sih artinya masa lalu buat kamu? Ada orang yang benci masa lalu. Ada yang senang masa lalu. Ada juga yang mempelajari masa lalu. Tak bisa kita ingkari jika masa lalu adalah bagian penting dari diri kita hari ini. Kita bisa sampai hari ini juga karena ada masa lalu. 

Mari kita lihat, kita hadir hari ini setelah kemarin bergiat melakukan aktivitas yang senang atau tidak senang. Lewat sehari saja sudah jadi masa lalu. Kerucutkan lebih kecil lagi, lewat satu jam sudah masa lalu. Bahkan lewat satu menit, satu detik saja sudah menjadi masa lalu. 



Tak bisa dihindari jika masa lalu adalah sesuatu yang penting untuk kita pelajari. Penulis yang juga anggota Gandawesi ini begitu terkagum-kagum dengan masa lalu Gandawesi. Tidak bisa disebut sebagai masa keemasan tapi sebagai masa pelajaran buat kita semua. Keemasan hanya akan membuat silau.

Dulu, hadirnya kembali Buletin Gandwesi juga karena penulis melihat-lihat arsip di lemari Gandawesi kemudian ada potongan-potongan kecil seputar berita, opini, dan karya-karya tulis lainnya. Ya, weblog ini juga hadir karena inspirasi masa lalu. 

Nah, tertarik melihat sisi-sisi lain kegiatan Gandawesi? Ini ada beberapa dokumentasi kegiatan Gandawesi yang dilakukan di masa lalu.





Masa lalu buat dikenang agar saat ini bisa tertawa menertawakan diri sendiri














Pemulihan Bencana Sulteng Semakin Intensif

JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama relawan lainnya semakin mengintensifkan pemulihan bencana di Sulawesi Tengah. Beberapa anggota Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi pun turut membantu pemulihan itu.

"Percepatan pemulihan dampak bencana terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Sabtu (20/10).

Menurutnya, masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26/10/2018. Kini, beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen.



Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen. Beberapa daerah memang aliran listrik belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di  sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

Bahkan, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

Pembersihan puing-puing bangunan terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Sebanyak 14.604 personil gabungan dari TNI, Polri, sipil dan relawan dikerahkan untuk penanganan darurat hingga saat ini. Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12/10/2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

Hingga Sabtu (20/10/2018), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala  171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga.



"Dari 2.113 orang korban meninggal dunia, sudah termasuk 1 orang warga Korea Selatan yang meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa Kota Palu. Tidak benar, adanya berita yang memberitakan 2 orang warga Belanda yang juga menjadi korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan Hotel Roa-Roa," katanya.

Dia mengatakan, tim Posko Kementerian Luar Negeri dan Basarnas sudah menelusuri berita tersebut, bahwa berita tersebut tidak benar. Tim SAR gabungan yang dikoordinasikan oleh Basarnas hanya menemukan 1 jenasah warga negara asing yaitu warga negara Korea Selatan pada 4/10/2018. Tidak ada warga negara Belanda. Pencarian korban di Hotel Roa-Roa juga sudah dihentikan sejak 8/10/2018.

Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian. Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak.

Kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini. Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya. (dju)



Tangis Gandawesi Saat Kunjungi Lokasi Likuifaksi

Beberapa kampung di Palu, Sulawesi Tengah, porak poranda. Warga setempat menyebutnya seperti kertas yang dirobek-robek. Hamparan bumi membelah. Tanah yang tadinya keras melembek. Semua yang ada di permukaannya pun tertelan.

Merekam, mengobservasi langsung di lokasi bencana (Kusmana - gandawesi.or,id)
Hal ini terlihat di Balaroa dan Petobo. Kedua tempat yang kini menjadi kampung mati. Rumah-rumah hancur, bahkan lenyap. Beberapa korban yang selamat menyebutkan, kampung mereka berputar-putar seperti adonan kue yang sedang diaduk. Semua amblas.

Jalanan beraspal menjadi perbukitan. Atap rumah hanya terlihat ujungnya saja. Puing-puing pun berserakan. Di sinilah terjadi tsunami pegunungan. Sebab, kedua kawasan ini cukup jauh dari pesisir namun, semua rumah hancur, termasuk isinya. Tertelan bumi hingga kedalaman 5-10 meter. Biasanya, tsunami hanya menerjang kawasan pesisir.

Lokasi bencana 

Setali tiga uang. Di pesisir Palu pun, tsunami menerjang. Korban meninggal bergelimpangan. Korban luka pun sangat banyak. Tangisan dan rintihan terdengar tanpa henti. Termasuk saat anggota Gandawesi mengunjungi lokasi.

Di Balaroa, bencana likuifaksi menunjukkan kedigdayaannya. Salah satu pendiri Gandawesi KPALH, Kusmana, tak henti-hentinya bertafakur melihat kekuasaan Tuhan. Anggota bernomor GW.0100021.G ini mengajak seluruh anggota Gandawesi untuk terus mengaktualisasi diri ke lokasi bencana.

Kusmana dan tim di lokasi posko bencana yang didirikan (www.gandawesi.or.id)

"Saat di lokasi, gempa setiap hari terjadi. Minimal 4 -7 kali. Suara geemuruhnya mengerikan. Jadi semua orang nggak berani tidur dalam bangunan, semuanya ditenda," ucap Kusmana, dalam pesan singkatnya, kemarin.

Bergabung dengan tim Tower Bersama Peduli, Kusmana berkali-kali melakukan tanggap darurat, rehabilitasi hingga rekonstruksi di lokasi Bencana. Termasuk saat Tsunami Aceh, Gempa Lombok dan kini Tsunami, Gempa dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah.

Kepedulian kita untuk mereka (Kusmana - gandawesi.or.id)

"Kalau tenda khusus pengungsi, saya beli dari Bandung sebanyak 40 unit untuk kapasitas 8 orang. Lalu dibagikan di lokasi Bencana. Ada juga tenda pleton 5 unit untuk dapur umum dan trauma healing" ucapnya.

Lokasi bencana (Kusmana - gandawesi.or.id)

Aktualisasi Organisasi

Kusmana pun pernah bertemu dengan anggota Gandawesi lainnya, Mohammad Ilham (GW.25.195.T) di lokasi. Ilham berangkat ke Palu bersama tim evakuasi KBPA Bandung Raya. Keduanya punya peran masing-masing untuk memulihkan Palu seperti sediakala.

"Senang sekali, Gandawesi banyak beredar. Tapi secara organisasi, kita belum perlu berbangga. Sebab, relawan dan LSM lain jauh lebih gila perjuangannya. Kita masih perlu membuka jendela wawasan kita. Tujuannya agar organisasi kita senantiasa bisa mengaktualisasikan diri dengan perkembangan organisasi lain," ungkapnya.


Menangani Masalah Lingkungan Di Lokasi Bencana

Dalam keadaan darurat seperti bencana, semua hal dilakukan secara praktis. Makan nasi bungkus, tidur di tenda pengungsian, atau cukup beralaskan koran beratap langit. Baju sehelai pun terus dipakai berhari-hari. Bisa diganti jika sempat dan membawa baju cadangan.


Pembangunan sarana di lokasi bencana (Kay 20018)

Saat bencana datang, beragam bantuan pun silih berdatangan. Terutama makanan, pakaian, medis, hingga hunian sementara. Kebutuhan pokok yang mesti ada selagi lokasi bencana belum pulih. Sebab, di lokasi bencana ini korban dan relawan berbaur satu sama lain.

Namun penanganan bencana bisa jadi sumber bencana jika semua salah urus. Seringkali, relawan yang berdatangan fokus menangani soal evakuasi, dapur umum, hingga trauma healing bagi para korban. Padahal, masalah kesehatan lingkungan (sanitasi) di lokasi bencana pun penting untuk jadi perhatian.

Sebagai Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH), Gandawesi berupaya turut menangani masalah lingkungan di sekitar bencana. Salah satunya soal limbah yang dihasilkan korban dan relawan. Jika limbah berupa kotoran manusia ini tak dikelola dengan baik, bencana pun siap menerjang kapan saja. 

Bakteri Escherichia coli (E.coli), salah satu bakteri yang terdapat pada tinja manusia, bisa mencemari lingkungan sekitarnya. Rizky T Siregar, anggota KPALH Gandawesi FPTK UPI, bersama komunitas Sahabat Peduli Indonesia terjun langsung ke lokasi bencana gempa dan tsunami Palu.

Anggota bernomor GW 19.157.AH ini turut membantu membangun 28 unit toilet darurat di Balaroa dan Palu. Lokasi bencana yang masih minim sanitasi bagi korban dan relawan. Dari 28 unit toilet ini akan terus ditambahkan sesuai kebutuhan. Mereka dibantu TNI membuat toilet darurat. Alat berat dan tenaga kerja pun sigap dikerahkan untuk mempercepat proses pembangunan.

Kolaborasi dengan berbagai pihak seperti TNI (Kay 2018)

"Tim dari Komunitas Sahabat Peduli Indonesia terjun langsung ke daerah pengungsian. Kami temukan toilet dan air bersih belum memadai. Di sekitar tenda pengungsian, maaf, banyak kotoran. Kalau dibiarkan akan menjadi bencana susulan. Yaitu sumber penyakit  menular," ujar perempuan yang akrab disapa Kay, di lokasi bencana.

Bagi yang akan menyalurkan bantuan untuk korban bencana Palu, bisa dikirimkan melalui ke REK BCA, a.n Rizki Siregar : 4551301049. Bagi yang sudah mengirimkan bantuan, mohon konfirmasi dengan mengirimkan bukti/struk donasi ke no WA: 08819986561, e-mail: info@matrastudio.com, IG : @matra.studio, atau FB: matrastudio.

Donasi akan disalurkan melalui komunitas Sahabat Peduli Indonesia, yang fokus membangun MCK, keperluan air bersih dan rehabilitasi sekolah untuk Palu.




Tak Cukup Kata Semangat Saja Untuk Memulihkan Palu

Datangilah mereka;
hiduplah bersama mereka;
mulailah dengan apa yang mereka tahu,
lakukan apa yang mampu mereka lakukan,
bangunlah kembali dari apa yang mereka punya.
(Lao Tse)

Muhammad Ilham, anggota KPALH Gandawesi, FPTK UPI cukup lama menjadi relawan korban bencana. Setelah lama bermukim di Lombok, Nusa Tenggara Timur -karena membantu pemulihan korban gempa Lombok-, Ilham pun segera bergegas ke Palu untuk tugas yang sama.

Bencana yang datang bertubi-tubi di berbagai lokasi, tak sekadar membutuhkan kata "semangat". Para korban masih menunggu uluran tangan, baik bantuan logistik, evakuasi, hingga pendampingan. Karena menuju pulih, tak mudah seperti membalikan telapak tangan.
Ilham dan Kusmana di lokasi bencana (www.gandawesi.or.id)
Bersama 8 relawan lainnya, Ilham ditugaskan Keluarga Besar Pecinta Alam (KBPA) Bandung Raya (BR) untuk melakukan operasi bantuan relawan di Palu. Sudah sepuluh hari mereka tinggal bersama korban di pengungsian. Menyatu bersama ribuan relawan lainnya yang turut serta berdatangan dari berbagai daerah.

"Relawan bukan hanya donasi materi saja, ada yang donasi waktu, tenaga, pikiran. Karena kita terbatas materi, kita mendampingi masyarakat mengelola bencana melalui posko dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat," ucap Ilham di lokasi bencana.

Saat ini, Ilham dipercaya menjadi koordinator lapangan dari KBPA BR. Para relawan ini terus melakukan pencarian data agar program pendampingan ke depannya bisa tepat mengenai sasaran. Bersama relawan lainnya, anggota dengan nomor GW.25.195.T ini tak mengenal lelah dalam memulihkan lokasi bencana.

"Sebagian tim di minggu pertama ikut evakuasi. Tiga hari yang lalu baru kumpul lagi buat pendataan," ucap salah satu angkatan Triyudha itu.

Posko bantuan di lokasi bencana (Ilham - gandawesi.or.id)

Mengutip konsep-an Lao Tze (2700 tahun lalu), Ilham dan tim KBPA BR berupaya melakukan pendampingan posko masyarakat di lokasi Bencana. Baik di Palu maupun di Lombok.

“Datangilah mereka;
hiduplah bersama mereka;
mulailah dengan apa yang mereka tahu,
lakukan apa yang mampu mereka lakukan,
bangunlah kembali dari apa yang mereka punya.
..
tiba waktunya, saat pekerjaan pendampingan itu "telah selesai" dan tugas-tugas "telah dirampungkan", mereka akan berkata bahwa "Kami-lah sendirilah yang mengerjakan semua ini.”
...
Para relawan ini tidak hadir sebagai superhero yang dapat menyelesaikan segala masalah masyarakat dengan ilmu pengetahuan maupun kemampuan yang dimilikinya. Relawan ini juga tidak datang sebagai orang yang menentukan pilihan untuk masyarakat dampingannya.

Mereka hadir pada saat harus melaksanakan suatu kegiatan dari suatu program yang diembannya dan setelah itu dia kembali ke kehidupannya sendiri. Para relawan ini bertekad membentuk kemandirian masyarakat dan bukan untuk menciptakan ketergantungan baru.




Coklat, Gandawesi dan Anak Palu


Adalah Rizky T Siregar, anggota Gandawesi KPALH, KM FPTK UPI yang turut menyaksikan pemulihan Palu selepas luluh lantak oleh bencana gempa dan tsunami. Perempuan yang biasa dipanggil Kay ini, hampir sepekan di Palu bersama komunitas Sahabat Peduli Indonesia.

Ceria bersama (Kay 2018)
Tentu, selain menyalurkan bantuan. Juga memberikan trauma healing bagi korban yang rata-rata masih tinggal di tenda pengungsian. Anggota dengan nomor GW 19.157.AH ini seringkali menemukan semangat baru dari sorot mata anak-anak Palu.

Sebuah tulisan ringan angkatan ke 19, Arya Hibar ini membuktikan betapa semangatnya Anak-anak Palu untuk pulih dan bangkit. Berikut ulasannya:

Bersama seorang anak (Kay 2018)


Antara Nazier dan Coki-coki
Perkenalkan, anak laki-laki yang mempunyai senyum manis ini namanya Nazier (ditelinga saya terdengar seperti ini), Nazier mendekati saya yang sedang duduk istirahat.
"Ibu sedang apa?" (Dia bertanya dengan logat timur yang khas)
"Sedang istirahat, mau coki-coki?" (Sambil menyodorkan coki2)
Nazier menerima dengan bingung.
"Ini coklat, bisa makannya?"
"Tidak." (Nazier Menyodorkan coki2 kembali pada saya)
"Gigit ujungnya, baru pencet ke atas, biar coklatnya keluar" (sambil mempraktekkan).
Berhasil makan coki2, Nazier tersenyum lebar. Senyumnya manis sekali, lebih manis dari manis coki2.

Sedikit cerita tentang coki2, saya memang sengaja membawa makanan kecil untuk dibagikan ke anak2 pengungsian. Sebagian besar coki2, kenapa? Karena manis, berasa coklat yang disukai anak2, dan yang terutama..
Coki2 LAMA HABISNYA, tidak seperti coklat batangan yang sekali 'lep', langsung habis..
"Berharap menikmati #manis sedikit lebih lama" (sigh..)
#SemangatUntukPalu&sekitarnya
#IniBukanIklanCokicoki


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Note!
Bagi yang akan menyalurkan bantuan untuk korban bencana Palu, bisa dikirimkan melalui ke REK BCA, a.n Rizki Siregar : 4551301049. Bagi yang sudah mengirimkan bantuan, mohon konfirmasi dengan mengirimkan bukti/struk donasi ke no WA: 08819986561, e-mail: info@matrastudio.com, IG : @matra.studio, atau FB: matrastudio.

Donasi akan disalurkan melalui komunitas Sahabat Peduli Indonesia, yang fokus membangun MCK, keperluan air bersih dan rehabilitasi sekolah untuk Palu.

Selamat Wisuda, Genk!

Selamat wisuda! 
Selamat untuk perjuangan menuntaskan hal yang semestinya dituntaskan!
Waktu hanya masalah angka, terpenting dari itu semua adalah tekad menjadi lebih baik setiap hari dari pengalaman yang dialami di organisasi.

Selamat bertualang lagi untuk: 

1. Robby Maulana (GW.25.196.T)
2. Aditya Febriyanto ((GW.26.201.TL)
3. Habib Fitroh (GW.26.205.TL)
4. Janaka (GW.27.206.WK)
5. Betary Andam (GW.27.212.WK)
6. Dewi Sunartini (GW.28.213.AS)
Petualangan barumu dimulai dari sekarang!

Jangan lupa! Kuliah tong ngaganggu ulin! 


FK KBPA Bandung Raya: Sekolah Relawan Kebencanaan

Avignam Jagat Samagram
Sehubungan dengan kebutuhan relawan dalam Operasi Bantuan Relawan Kel Besar Pecinta Alam utk Penanganan Bencana Gempa Lombok 2018 yg dioprasikan oleh Badan SAR dan PB FK KBPA BR, serta atas dasar permintaan Badan SAR dan PB FK KBPA BR, dengan ini Badan Diklat bermaksud menyelenggarakan Sekolah Relawan Kebencanaan yg akan dilaksanakan pd :

Sabtu, 8 September 2018 - Senin, 10 September 2018
Bertempat di Bumi Perkemahan Kiarapayung - Jatinangor (*thp konfirmasi)

Materi2 yg akan disampaikan : 
1. Bela Negara 
2. Land SAR
3. Personality Type
4. Test Personal Profile System
5. Stress Manajemen dan Pola Defensif
6. Body Language
7. Manajemen Perjalanan
8. Manajemen Bencana dan Resiko
9. Geologi
10. Kearifan Lokal
11. Patanjala
12. Response Mode dan Generator
13. Simulasi Program
14. Manajemen Posko Pengendalian Operasi dan Pendampingan

Pendaftaran dibuka dr tgl 1 - 6 September 2018 dgn klik tautann berikut :
bit.ly/sekolahkebencanaan 
Technical Meeting tgl 7 September 2018 pukul 15.00 WIB bertempat di Poskodalops PPG Sadawana, Eks Terminal Cileunyi

Kami membuka donasi utk jalannya Sekolah Relawan Kebencanaan ini, dpt ditransfer melalui rekening :
1550001217747 a.n Osianni Pertiwi
(Bank Mandiri)

Informasi lebih lanjut dpt menghubungi :
Osianni Pertiwi (Gandawesi)

Tertanda 
Ketua Badan Diklat FK KBPA BR
Osianni Pertiwi
Gandawesi


Mahasiswa Baru FPTK 2018 Mari Berorganisasi

Selamat datang mahasiswa baru FPTK 2018. Mari bergabung bersama organisasi pecinta alam dan lingkungan.
Berkarya untuk lingkungan yang lebih baik. Berkolaborasi dalam ikatan kekeluargaan yang erat. 


Tertarik! Kami tunggu di Gandawesi yaaa!


17 Agustusan di Gunung Guntur Bersama Anak

Cerita 17an di Gunung Guntur - Garut, Jawa Barat yang dilaksanakan pada 16-17 Agustus 2018 adalah catatan seorang anggota Gandawesi Matt Danro

Sekitar Tahun 2011 bulan Juni setelah lahir anak laki-laki pertama saya, di temani team 2 org melakukan pendakian ke gunung guntur, Garut. Ceritanya sih bukan janji atau nadzar seperti biasanya tapi hanya berucap kalau anak pertama lahir laki-laki mau naik gunung ah, ucapku spontan waktu itu. Lalu berharap bisa bareng dia naik gunung ke guntur lagi. Insyaalloh

Mahasabdika Yawabumi ( Aa ) nama anak laki-laki pertama saya yang di maksud di atas. Sekarang dia berumur 7 tahun. 1 bulan sebelum hari kemerdekaan 2018 dia selalu bertanya tentang mendaki gunung dan ingin di belikan tas gendong outdoor. Ya sudah saya belikan aja biar dia semangat untuk tahu apa yg dibutuhkan ketika mendaki.

Pada akhirnya dengan niat dan ucap Bismillah saya berangkat ke Garut untuk melakukan pendakian. Gunung Guntur adalah gunung pertama yang akan didaki oleh anak saya, walaupun sering saya ajak hikking tapi ini yang pertama buat anak saya. 

Pendakian kali ini hanya untuk melatih, seberapa kuat mental serta kesabaran diri saya ketika mendaki dengan anak sendiri. Dan keingintahuan akan mental serta fisik anak laki-laki pertama saya.


Memang sangat berbeda sekali ketika kita mendaki dengan team pendaki, mereka sudah mengerti apa yg perlu di siapakan dan yang harus di bawa, berbeda dengan kita membawa anak di bawah umur. Ada beberapa hal yg perlu di perhatikan ketika kita membawa anak di bawah umur :

1. Pelajari dan cari info gunung mana yang bersahabat untuk anak di bawah umur
2. Persiapkan logistik yang efektif dan taktis untuk di bawa
3. Bawa perbekalan yg memang dia sukai termasuk snack atau makanan ringan lainnya
4. Bawa obat-obatan yg sekiranya berguna
5. Usahakan fisik kita 2 kali lebih kuat dari biasanya
6. Biasakan berdoa sebelum dan sesudah melakukan perjalanan atau berkegiatan apapun
7. Lakukan percakapan santai serta menghibur ketika dalam perjalanan, bahas hal yang memang sedang dia kagumi seperti SPIDERMAN kalau anak saya (dinamika perjalanan)


8. Informasikan hal-hal yang ditemui di perjalanan, mana saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan ( seperti mencorat-coret di batu/ vandalisme, buang sampah serta etika buang hajat ) untuk mengedukasi dia
9. Jangan terlalu sering menyampaikan harapan palsu, seperti bentar lagi nyampe dll. Anak akan jenuh dan drop.
10. Ketika drop, bolehlah sekali kali kita evakuasi/ gendong untuk jarak dekat saja dan terus kita motivasi lagi
11. Berikan asupan makanan sebelum tidur untuk menghindari dehidrasi dan sebelum summit untuk menambah energy extra
12. Selalu dampingi dan awasi setiap gerak-geriknya
13. Jangan terlalu memaksakan berjalan ketika sedang drop. Istirahat saja dulu Karena perjalanan ini harus pulang kembali dengan sehat dan selamat
14. Sekali kali berikan pujian utk dia ketia ada 1 pencapaian
15. Pastikan semunya dalam kondisi baik dan benar karena tujuan kita hanya untuk belajar menghargai serta menikmati alam ciptaanNya



Terharu memang melihat semangat serta perjuangannya lalui trek demi trek yang awam serta bahaya utk anak di bawah umur. Tapi saya percaya pada saat itu klo anak saya mampu.





Bangga tersirat dalam jiwa raga saya menyaksikan anak saya bisa melakukan perjalanan yang tidak biasa. Disini saya sebagai ayahnya dan sewaktu waktu saya memposisikan sebagai teman buat dia. Supaya dia bisa belajar membedakan segalanya. Ini moment terbaiku selama mendaki gunung dan pelajaran berharga yg tak akan hilang di telan waktu.

Terima kasih Alloh SWT
Terima kasih keluarga kecilku

Salam Lestari




Dirgahayu Republik Indonesia! RI73

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Photo Galih Yusup Laksana!

Segenap redaksi gandawesi mengucapkan dirgahayu 73 Republik Indonesia.
Indonesia tetap jaya!
Gandawesi tetap jaya!


Menikmati Kebersamaan di Curug Malela

Menikmati Kebersamaan di Curug Malela
Oleh Mien Riesa Mintarsyah*) 

Olah raga kita minggu ini menyambangi daerah yang dekat saja biar tidak terlalu menyita waktu, dan pagi tadi pilihannya menyusuri Kabupaten Bandung Barat dengan tujuan Curug Malela. 

Curug atau air terjun Malela tepatnya berlokasi di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga Gunung Halu, bila ditempuh menggunakan  kendaraan dari kota Bandung normalnya tiga jam, dan kita tadi pagi dengan kondisi lalin lancar jaya tepat tiga jam sudah sampai lokasi air terjun Malela. 

Rute perjalanan kita dari arah Bandung menyusuri kota Cimahi- Batu jajar- Cihampelas- Gunung Halu- Buni Jaya- Curug Malela. 
 
Kami beranggapan jarak tempuh perjalanan kali ini dekat maka komandan mengajak pasukan dengan formasi lengkap menggunakan roda dua, namun ternyata anggapan itu keliru. Ternyata jarak tempuh menuju curug malela jauhhhhhh!

Komandan yang biasa nyantai mengandalkan GPS  sebagai petunjuk arah kali ini di buatnya galau, tiga kali ia bertanya, dan pada orang terakhir yang ditanya memberikan keterangan jarak tempuh curug Malela masih berjarak 20-25 km.

Perlahan tapi pasti setelah tiga jam perjalanan akhirnya sampai juga di lokasi. Namun jangan khawatir merasa jenuh selama perjalanan karena selama melintasi jalan menuju lokasi kita akan disuguhi lanskap alam yang sedap dipandang mata. Seperti hamparan sawah yang terbentang hijau sejauh mata memandang atau saat melintasi perkebunan teh Montaya dengan beberapa rumah kontrak teh peninggalan jaman Belanda di daerah Sindang Kerta. Pokonya gak rugi deh jauh juga. 

Curug Malela dari kejauhan. Tampak megah dan menantang!


Setiba dilokasi sebelum menuruni anak tangga selanjutnya kita akan menemui loket pembelian tiket masuk seharga lima ribu rupiah perorang. Bagi yang ingin soliskan. Di sekitar lokasi tempat penjualan tiket tersedia toilet, mushola dan warung-warung yang menjual makanan dan minuman. Kita bisa beristirahat dan solat disini sebelum melanjutkan perjalanan menuju curug. 

Menuruni anak tangga yang terkenal dengan  tangga seribunya untuk menuju curug atau air terjun bisa ditempuh waktu normalnya selama 15 menit saat turun dan untuk naik 20 menit karena medan menanjak nafas pasti agak sesak dibandingkan saat menuruni trek. 

Curug Malela dengan ketinggian enam puluh meter, lebar tujuh puluh meter memiliki lima buah air terjun nampak indah baik di lihat dari kejauhan apalagi saat di datangi ke bawah bermain air dan untuk berselfi ria bisa menjadi penawar lelahnya saat perjalanan pokoknya  gak menyesal deh bagi yang penasaran ingin mengunjunginya. 



Pulangnya jika ingin mengisi amunisi sebagai pengganti energi yang telah terkuras kita bisa menikmati aneka hidangan olahan ikan  air tawar di tepi bendungan Cirata diperlintasaan lalin saat kita pulang. Masalah harga relatif, tapi menurut kami termasuk murmer. 😁

Satu hal dari perjalanan hari ini adalah sepertinya aku lebih memilih berjalan kaki delapan jam dibandingkan dengan menggunakan motor selama enam jam. Oke lah lutut aman dan terbebas dari kepayahan, nafas aman tak perlu tersegal dan sesak tapi ampiyun. Ini yang namanya badan serasa remuk redam dihajar medan jalan berbatu atau saat melintasi jalan raya perkampungan  polisi tidurnya "renyek" dengan ketinggian semau gue dan jarak yang berdekatan. 

Kebersamaan yang tak lekang oleh waktu (foto by Mien Riesa Mintarsih)

Syukur Alhamdulillah untuk nikmat hari ini. Buat  kawan seperjalanan semoga di lain waktu kita bisa bersama kembali menikmati sensasi alam di tempat yang berbeda senang hari ini bisa berbagi bahagia dengan kalian. 

Mien Riesa Mintarsyah adalah anggota Gandawesi


Charity For Lombok

Charity For Lombok!
Gandawesi membuka pos bantuan untuk Lombok. 
Bantuan bisa disalurkan langsung ke sekretarian Gandawesi di FPTK Universitas Pendidikan Indonesia. Jalan Dr Setiabudi 207 Bandung.
Salurkan juga bantuan anda melalui rekening ke:

BJB 00746061044100 atas nama Gandawesi



Bantuan anda sangat besar untuk saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah.


Gandawesi Di Tembok Besar China

Tembok Besar China atau Tiongkok adalah salah satu keajaiban dunia yang terbentang hampir sepanjang negeri Tiongkok. Tembok besar ini dibangun untuk menghalau serangan yang datang dari Mongolia terutama pasukan yang dipimpin oleh Gengiskhan.

Seorang Gandawesi, di manapun berada selalu membawa semangat penjelajahan yang terus ditumbuhkan. 

Slogan tak resmi "kuliah tong ngaganggu ulin" ini seolah melekat dalam diri barudak Gandawesi. Cukup mengubah kata bagian depan kata kerja lainnya semacam 'pekerjaan', 'kerja', 'menikah', 'menjomblo, dan atau apapun itu prinsipnya tidak mengganggu kesenangan 'ulin' atau bermain.

Adalah Rizky atau di Gandawesi dan teman-teman kuliahnya dikenal dengan nama akrab 'Kay' berkesempatan mengunjungi Tembok Besar Tiongkok ini pada bulan Juli 2018 yang lalu. Inilah dokumentasi kala ia mengunjungi Tembok Besar China yang sekarang disebut Tembok Besar Tiongkok.


Gandawesi Di Tembok Besar China


Asyik kan? Yuk kita traveling bersama Gandawesi! 


Tertarik menulis untuk www.gandawesi.or.id sila kirim artikel ke bermainkreatif@gmail.com 


 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes