BREAKING NEWS

Fotografi

Lingkungan

FPTK

Selamat Idulfitri 1439 H

Segenap Redaksi Gandawesi Media Mengucapkan Selamat Idulfitri 1439 H.
Mohon Maaf Lahir dan Batin



Kembali Kepada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya! Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, 
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;  kerana Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima mata Uang palsumu! Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. 
Begitulah caranya! Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

(Jalaludin Rumi) 

The Journey Begin!

Tepat di malam idulfitri, redaksi mengeluarkan tema baru "The Journey Begin!" Sebagaimana perjalanan jauh yang selalu dimulai dari satu langkah maka perjalanan kali ini juga akan dimulai dari hal-hal yang terjangkau.
Setiap orang berhak menentukan titik awal pemberangkatan. Demikian juga redaksi Gandawesi.or.id ini yang selalu menjajaki awal-awal baru dalam sebuah perjalanan.
Dari media buletin gandawesi cetak yang disebarkan terbatas di kalangan kampus Universitas Pendidikan Indonesia dan organisasi pecinta alam di Bandung, kini melangkah lagi terus membenahi diri lewat media yang sedang anda baca ini.
Menjelajah untuk berbagi pengetahuan adalah awal perjalanan di media elektronik kemudian kini dengan semangat baru "The Journey Begin!" agar tidak terlena dengan setiap shelter pemberhentian sementara. Selalu terus membangun semangat maju untuk gerakan Pecinta Alam di Indonesia.

Buka Bersama Pecinta Alam Bandung Raya

Halo selamat pagi dan salam kesetaraan untuk kita semua. Akan ada acara "BUKBER BARUDAX PA BANDUNG RAYA" yang diselenggarakan oleh FK - KBPA -BR.  Mengajak rekan-rekan untuk bergabung di kegiatan bersama ini, yang insyaallah akan diselengarakan pada:

Hari/tanggal   : Rabu/06 Juni 2018
Pukul             : 13.00 - 20.30
Tempat          : Himpala Itenas Bandung
yukkk teman-teman kita sukseskan acara kita bersama ini. 

Ga ada lo, ga rame!!!

Kami panitia pun mengucapkan terimakasih banyak untuk rekan-rekan organisasi pecinta alam Bandung Raya yang sudah ikut berpartisipasi, kepada :
1. Jana Buana IMT
2. Baedau Petala SMAN 12 BDG
3. Mapaligi Unikom
4. Mataspala Ekuitas
5. KPA Wanagiri SMAN 1 Cileunyi
6. Repasmandala Lemahabang Cirebon
7. Mahatala Unjani
8. Napallima SMKN 5 BDG
9. Riksawana SMA YAS BDG
10. KAP3LA SMAN 24 BDG
11. Perpala SMA KP 2 BDG
12. Mahitala UNPAR
13. Gandawesi KPALH 
14. Luwing SMAN 14 BDG
15. Himpala Itenas Bandung
16. Mapala Argawilis
17. Jasamarga
18. PPGD Sadawana BDG
19. Dewadaru
(mohon maaf jika ada yg belum kesebut)

Untuk rekan-rekan yang ingin ikut berpartisipasi, kami panitia masih sangat terbuka lebar, karna ada beberapa pemenuhun kebutuhan yang masih belum terpenuh, dan kami sangat membutuhkan bantuan saudara-saudara, agar kegiatan ini dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan dengan niat baik dan tulus.

Oh iya untuk rekan-rekan jika ada yang ingin documentary kegiatannya di tayangkan pada saat acara bukber ini, silahkan menghubungi kami panitia, agar documentary teman-teman bisa ditayangkan. (Maks Video nya durasi 2 menit yah).

Buat rekan-rekan yang ingin membantu kami panitia untuk mempublikasikan kegiatan ini baik secara online maupun offline silahkan menghubungi kami panitia juga dan atau teman-teman semua mau menyumbangkan rezekinya di acara ini agar kita buka bersama dengan hidangan yg sangat nikmat, kami sangat senang hati untuk menerima donasi dari teman-teman semua.


Inspirasi dari 8.848 mdpl

"Kali ini saya benar-benar percaya, bahwa yang ditempa oleh alam, hanya bisa dihentikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia, apalagi oleh rasa putus asa.."


Belum selesai rasa bangga kita akan salah satu Anggota Gandawesi yang mencapai Basecamp Annapurna, lagi-lagi saya dibuat bangga akan keberhasilan 2 Srikandi Indonesia yang berhasil menyelesaikan 7 Puncak Dunia, yang dibawakan oleh 2 orang anggota Mahitala - Universitas Parahyangan, pagi tadi pada hari Kamis, 17 Mei 2018.

Ya, mereka memang berasal bukan dari anggota Gandawesi. Apalagi mahasiswi UPI. Mereka mahasiswi, yang berasal dari kampus lain, dan dari MAPALA lain. Lalu dimana letak titik kebanggannya?

Saya sedikit bercerita. Sepanjang perjalanan 8 tahun menjadi seorang anggota Gandawesi, yang juga MAPALA.

Saya rasa semua MAPALA sama. Kami masuk kuliah. Melalui berbagai macam tes. Lalu lulus. Berikutnya kami mengikuti masa orientasi kampus. Memilah milih UKM mana yang akan kami masuki. Jatuhlah pilihan pada UKM Pecinta Alam. Di sana lagi-lagi mengalami orientasi. Bahkan jauh lebih sulit daripada orientasi kampus atau jurusan. Berhari-hari di hutan. Rindu rumah. Rindu keluarga. Rindu makan enak. Rindu tidur nyaman. Lalu kami lulus dan disematkan syal, serta dinyatakan menjadi anggota. Lalu kami menghabiskan masa 'bodoh' kami saat jadi Anggota Muda. Menjadi anak bawang yang harus rela diminta kesana-kemari. Lalu kami lulus, menjadi Anggota Biasa/Penuh. Merasakan mengurus organisasi. Harus menerima kritik dari kanan dan kiri. Jangan tanya kami makan 3x sehari atau tidak, kami mandi atau tidak, kami beli baju baru atau tidak, yg kami pikirkan bagaimana roda organisasi berputar. Di samping itu, kami harus kuat dipandang sebelah mata oleh dosen. Tak jarang beberapa dari kami menerima 'surat-cinta' dari kampus, karena terlalu sering ke sekretariat daripada ke kelas untuk kuliah. Beberapa dari kami-pun pernah merasakan hebatnya menjadi 'multitasker' karena teman sejawat lagi-lagi melupakan bahwa kami manusia, bukan robot yang harus meng-handle pekerjaannya.

Ya, itu semua pernah saya alami. Sehingga buat saya, puncak Everest itu mimpi. Bualan. Lulus saja sudah syukur. Apalagi mengerjakan ekspedisi sebesar itu. Bisa mengumpulkan uang dan pergi ke Rinjani saja sudah merasa hebat. Apalagi pergi ke puncak tertinggi di dunia. Kampus memberi kami uang berkegiatan saja sudah Alhamdulillah. Jangan minta uang sampai ratusan juta bahkan miliaran ke kampus, yg ada mungkin proposal mu dilempar dan kau dianggap gila. Ya, buat saya, itu terlalu mimpi. Terlalu panjang tidurmu, jika bisa sampai ke Everest. Sementara jadi Anggota Biasa, tidurpun banyak pikiran.

Tapi semua itu berubah, semenjak saya mendengarkan press-conference WISSEMU kira-kira 10 bulan yang lalu. Pertanyaan saya bukan bagaimana fisik mereka, atau bagaimana 2 atlet mereka berlatih. Sama sekali bukan. Pertanyaan saya, lebih kepada tim manajemen mereka. Bagaimana mereka mengumpulkan uang? Bagaimana rapat persiapan mereka? Apa dalam rapat masih ada yang bolos dengan alasan mengerjakan tugas? Apakah anggota yang lulus hanya mengkritik tanpa membantu? Berapa biaya yang ditanggung oleh kampus mereka? Bagaimana kuliah mereka? Apakah dosen-dosen tetap memandang sebelah mata atau mendukung mereka? Dan pertanyaan-pertanyaan receh lainnya.

Kenapa receh? Ya, saya baru sadar. Mereka MAPALA. Tentunya punya masalah yang sama. Atlet mereka masih mahasiswa. Ketuanya pun masih mahasiswa. Alumni nya entah berjumlah berapa. Yang jelas, mereka MAPALA. Sama seperti Gandawesi, yang juga MAPALA. Mereka pasti punya masalah, seperti kita. Mereka terikat pada sebuah lembaga. Mereka punya limit masa perkuliahan. Ya, mereka sama. Mahitala sama dengan Gandawesi. Jika Mahitala bisa, mengapa Gandawesi tidak bisa?

Saya mengikuti perkembangan mereka dari media sosial. Tak jarang saya tanya langsung pada anggota Mahitalanya, karena beberapa ada yang kenal dan cukup dekat. Tapi, ketibaan mereka pagi tadi di puncak Everest benar-benar membuka mata saya. Mereka mampu, dan mereka bisa. Entah bagaimana teamwork mereka bekerja, tapi mereka berhasil menorehkan prestasi. Selain karena mereka Srikandi Indonesia pertama yang menuntaskan 7 puncak dunia, mereka juga (mungkin) wanita MAPALA pertama, yang secara organisasi mampu menancapkan bendera di puncak tertinggi dunia.

Saya termasuk anggota yang jarang membandingkan Gandawesi terhadap organisasi lain. Ya buat apa juga sih, pikir saya. Tapi kali ini, saya bangga terhadap Mahitala. Mereka bukan hanya membuat bangga, tapi mereka juga menginspirasi Pecinta Alam khususnya MAPALA di Indonesia. Mulai hari ini juga, saya percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dengan birokrasi kampus yang berbelit-belit, anggota yang datang dan pergi, belum lagi harus membagi antara akademik dan organisasi. Tapi pasti bisa. Karena sudah ada yang membuktikannya dan bisa. Kali ini saya benar-benar percaya, bahwa yang ditempa oleh alam, hanya bisa dihentikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia lagi, apalagi oleh rasa putus asa.

Semoga Gandawesi dan Pecinta Alam diseluruh Negeri punya puncak Everest nya masing-masing. Karena tidak ada yang tidak bisa dikerjakan oleh orang-orang yang dilatih dan dididik oleh alam.



SELAMAT kepada Hilda dan Didi yang telah berhasil menuntaskan rangkaian 7 Puncak Dunia. Terimakasih sudah menginspirasi. Semoga dengan prestasi kalian, dapat merubah orang-orang yang menganggap MAPALA yang katanya hanya sekelompok mahasiswa dengan kemeja lusuh dan tak pernah mandi. Semoga dapat merubah cara pandang dosen-dosen terhadap kami yang katanya kerjaannya hanya main tanpa makna. Dan yang terpenting, semoga prestasi kalian, mengguggah prestasi-prestasi anggota MAPALA lainnya untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Ditengah aksi terorisme yang sedang merebak di Negeri ini, terimakasih kalian mampu mengharumkannya kembali.

Ditunggu sharing nya di Gandawesi.













Cerita Pendakian Gunung Ciremai

"Kuliah tong ngaganggu ulin!" 

Kegiatan di alam terbuka kadang menjadi bentuk yang bikin pegiatnya ketagihan. Selalu ada keinginan untuk bergiat dan terus bergiat. Mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi jeram, memanjat tebing adalah hal menyenangkan untuk terus dilakukan sekalipun sudah bukan lagi tercatat sebagai mahasiswa atau anggota aktif di kampus. 

Slogan "Kuliah tong ngaganggu ulin" ini benar-benar mewujud dalam kehidupan selepas lulus. Salah satunya adalah cerita di bawah ini. Anggota Gandawesi, Neneng Rusminingsih bersama anggota keluarganya lengkap melakukan kegiatan pendakian gunung. 



Inilah cerita yang menarik di simak! Setelah kemarin lulus uji coba pendakian Tangkuban Perahu, Alhamdulillah Allah SWT masih mengizinkan saya dan keluarga juga sahabat serta tim Gandawesi pada tgl 10 Mei 2018 di perkenankan untuk mendapatkan kesempatan bisa melaksanakan pendakian puncak Gunung Ciremai di Kuningan dengan ketinggian 3078 mdpl. 
Dengan rombongan 18 orang.

Tepat Pada tgl 10 perjalanan kami di mulai dengan berkumpul bersama di sekretariat GANDAWESI kemudian di lanjutkan perjalanan ke Kuningan, sampai di lokasi bumi perkemahan pada malam hari kami menginap utk persiapan pendakian awal.

Tiba esok hari pada tgl 11 mei rombongan memulai pendakian dengan menempuh perjalanan 9 jam kita berhasil mencapai pos 7 dengan dilanjutkan pemasangan tenda dan kemudian menginap kembali di temani hawa dingin yang menusuk.

Tepat pada tgl 11 Mei pukul 3 dini hari kita melanjutkan kembali perjalanan dengan memakan waktu 5 jam dan alhamdulillah dengan di sambut sunrise juga matahari pagi yang hangat kita semua selamat sampai puncak Gunung Ciremai. 

Terimakasih ya Allah atas izinMu kami semua bisa aman selamat berhasil mencapai puncak Gunung Curemai. 

Sebagai penutup, saya pribadi mengucapkan Terima kasih banyak untuk 
Kang Endang Irwansyah, A Panji Mahesa Halimawan juga Alyaa Aisyahra  yang selalu suport mamahnya, juga untuk Kang Mprit dan Teh mimin dengan 2 putra dan 1 putrinya, Teh Usi yang luar biasa , Kang Rusli, Kang Matt Danro, Kang Nur Cahya. Untuk tim logistik yang super keren Cholid, Habib, Dewi, Nida dan Dela. 

Semua sudah menemani perjalanan, semoga kesehatan selalu menyertai kita dan berharap Allah SWT masih memberi kesempatan kita untuk perjalanan pendakian lainnya di hari esok yang lain amiin YRA.

Asik bukan? Inilah dokumentasi lainnya!






Arung Jeram Seru Bersama Kanigara

Arung Jeram atau rafting menjadi salah satu alternatif kegiatan di alam terbuka yang memberikan sensasi menarik untuk dicoba.

Inisiatif berkegiatan di alam terbuka tak pernah lekang oleh waktu. Adalah para anggota Gandawesi angkatan 14, 15, dan 16 pada tanggal 28 April 2018 bekerjasama dengan Kanigara Outdoors Management melakukan kegiatan Arung Jeram di Pangalengan. 



Berangkat dari mulai pagi hari sampai berkumpul di lokasi tepatnya di sebuah situ di Pangalengan kemudian bersama-sama melakukan pengarungan yang dipandu oleh tim ahli dari Kanigara.

Inilah keasyikan dan keseruan selama mengarungi sungai.
















Seru dan asyik bukan? Ayo kita Arung Jeram bersama Kanigara! 











Gandawesi Menjejak Annapurna di Pegunungan Himalaya

"Because It's There!" (Sir Edmund Hillary) 


Gandawesi KPALH menjejak Basecamp Annapurna. Melalui instagram story-nya Nandang Sanjaya mengonfirmasi pencapaian sampai basecamp Annapurna. 


Annapurna terkenal ketika salah seorang penulis yang bernama Arlene Blum menuliskan kisah dramatis ekspedisi Wanita pertama ke Himalaya. 


Dalam referensi lainnya, inilah catatan seputar Annapurna.

Annapurna adalah salah satu gunung tertinggi didunia yang berada di Pegunungan Himalaya. Gunung ini memiliki delapan buah puncak, yang tertinggi adalah satu di antara tiga puncak yang dimiliki Annapurna I.

Annapurna I memiliki tiga puncak yang disebut dengan:

Selain itu Annapurna juga memiliki beberapa puncak yang lain dengan ketinggian di bawah 8.000 mdpl :

Semoga perjalanan penuh makna bisa terus kita lewati dengan baik!

Inilah dokumentasi lainnya kala Gandawesi KPALH menjejak Annapurna.











Gerakan Gandrung Tatangkalan di Bandung

Gerakan Gandrung Tatangkalan (Rakgantang) adalah gerakan penanaman pohon dan penghijaun pada lahan kritis dan pekarangan rumah yang dicanangkan oleh Mang Ihin (Solihin GP) pada saat menjadi Gubernur Jawa Barat tahun 1970. Rakgantang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan lingkungan hidup di Indonesia karena dilakukan sebelum diadakannya Konferensi Internasional pertama tentang Lingkungan Hidup yang diprakarsai oleh PBB pada tahun 1972 di Stockholm, Swedia. Seperti kita ketahui, Konferensi Stockholm menyepakati pembentukan UNEP (United nation Environment Programme) dan ditetapkannya tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Gagasan Rakgantang bisa dikatakan sangat visioner pada jamannya mengingat pada saat itu belum banyak kerusakan hutan di Jawa Barat, akan tetapi Mang Ihin sudah menerapkan sendi-sendi “GO GREEN” dengan melibatkan semua lapisan masyarakat. Dalam melaksanakan program Rakgantang, tidak hanya orang dewasa saja yang dilibatkan, anak-anak usia sekolah pun sudah diikutsertakan. Para guru mensosialisasikan Rakgantang di depan kelas tentang bagaimana pentingnya pepohonan untuk kehidupan manusia di dunia ini. Murid pun diajari bagaimana cara menyemai benih, memeliharanya, dan kemudian menanamnya pada tanah-tanah yang rawan longsor dan tanah yang di bawahnya terdapat mata air. Pendek kata, Rakgantang telah menjadi “memori kolektif” para orang tua yang pada saat itu duduk di bangku sekolah.

Saat ini lahan kritis di Jawa Barat semakin banyak dan tentunya berdampak terhadap adanya banjir, longsor dan bencana ekologis lainnya. Kondisi ini pada akhirnya memunculkan gagasan untuk mengaktifkan kembali Rakgantang dalam rangka percepatan pemulihan kawasan lindung dan lahan kritis di Jawa Barat. Soft Launching Rakgantang versi kekinian tersebut sudah dilaksanakan di Posko Pembibitan Rakgantang di Ciporeat – Cilengkrang Kabupaten bandung pada 10 September 2016 yang dibuka langsung oleh Mang Ihin. Pada acara tersebut Mang Ihin juga menobatkan Duta Rakgantang yaitu Yeni Fatmawati dan Denny Chandra untuk bisa menyampaikan pesan penyelamatan lahan kritis di Jawa Barat kepada pihak yang lebih luas.

Dalam rangka mengoptimalisasi pencapaian Rakgantang versi baru tersebut maka DPKLTS sebagai fasilitator bekerjasama dengan Duta Rakgantang akan mengadakan kegiatan “Riung Mungpulung Rakgantang” yang Insya Allah akan diselenggarakan pada 6 Mei 2008 di Hutan Kota Babakan Siliwangi.

Segenap Redaksi Mendukung Gerakan Gandrung Tatangkalan di Bandung (dok. iden)


Laporan Tim Assesment Bencana Longsor di Cianjur

Beberapa hari yang lalu terjadi bencana di Cianjur. Salahsatunya terjadi longsoran tanah yang mengenai sawah dan kolam warga di RT 3 Desa Wangun Jaya Dusun Sukajadi, Cianjur. Bersama tim dari kelompok Pecinta Alam lain, Gandawesi turut mengirimkan Tim assesment bencana longsor dan banjir desa Wangun Jaya Cianjur tersebut. Mereka adalah Dela dan 2 orang anggota Gandawesi yaitu Nuraida dan Anida sebagai tim wawancara warga ke tiap kepala keluarga.



Inilah laporan dari tim assesment.

*REPORT TIM ASSESMENT*
*Waktu : Rabu, 02 Mei 2018*
*Tugas : Assesment Ploting Area*
*Tempat: Desa Wangun jaya, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur*

*A. Pemukiman* 
-Batas Wilayah RT 05-RT 01 Koordinat S 07 ⁰24'54,4" E  107 ⁰20'19,8"
- Batas Wilayah RT 05-RW 10 Koordinat S 07 ⁰24'54,4" E 107 ⁰20'28,7"
- Batas Wilayah RT 05-RT 04 Koordinat S 07 ⁰24'55,3" E 107 ⁰20'37,8"
Batas Wilayah RT 05-RT 03 Koordinat S 07 ⁰24'47,3" E 107 ⁰20'29,1" & S 07 ⁰24'51,4" E 107 ⁰20'22,1"

*B.Sawah*
- AREA PERSAW AHAN 1 S 07 ⁰24'43,5"
E 107 ⁰20'37,8"
- AREA PERSAW AHAN 2 S 07 ⁰24'45,6"
E 107 ⁰20'26,4"
- AREA PERSAW AHAN 3 S 07 ⁰24'50,2"
E 107 ⁰20'24,9"
Keterangan : Karena area persawahan  secara keseluruhan terlalu luas jadi dibagi menjadi  3 area.



*C.Perkebunan*
- AREA PERKEBUNAN I S 07 ⁰24'45,4"
E 107 ⁰20'52,0"
- AREA PERKEBUNAN  2 S 07 ⁰24'52,0"
E 107 ⁰20'38,6" 
Keterangan Karena area perkebunan secara keseluruhan terlalu luas jadi dibagi menjadi 2 area.

*D Irigasi*
- AREA TIM BUNAN 1 S 07 ⁰24'35,1"
E 107 ⁰20'36,2"
- AREA TIM BUNAN 2 S 07 ⁰24'39,0"
E 107 ⁰20'29,9"
- AREA TIM BUNAN 3 S 07 ⁰24'42,4"
E 107 ⁰20'28,5"

*E. KOLAM* 
- AREA KOLAM IKAN 1 S 07 ⁰24'45,4"
E 107 ⁰20'29,2"
Keterangan : 2 Kolam
-AREA KOLAM IKAN 2 S 07 ⁰24'49,4"
E 107 ⁰20'29,2"
Keterangan: Satu Kolam
- AREA KOLAM S 07 ⁰24'44,9"
E 107
Keterangan : Satu Kolam

*TAMBAHAN*
- TITIK AW AL LONGSOR KE ARAH RT 05 S 07 ⁰24'45,81"E 107 ⁰20'38,2" 
- AKSES JALAN YANG TERTIM BUN S 07 ⁰24'55,2"E 107 ⁰20'30,5"
Keterangan : AKSES RT 03,
RT05,RT 04

*KRONOLOGI PERJALANAN *
*Selasa 01/05/2018*
-Pukul 14.36-15.05 Pemberangkatan dari Sekertariat MAWARGA
-Pukul 15.05-16.57 Rest di Mapagri untuk melengkapi logistik yang dibutuhkan
-Pukul 18.20-18-45 Ishoma
-Pukul 18.45-20.00 Melanjutkan perjalanan menuju RT 05/ RT 03 Desa Cipicung Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur
-Pukul 20.00-20.45 Ishoma
-Pukul 20.45-22.36 Melanjutkan perjalanan
-Pukul 22.36 Sampai di RT 05/ RT 03 Desa Cipicung Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur
Rabu 02/05/2018
-Pukul 05.00-08.15 persiapan untuk melakukan Assesment
-Pukul 08.15-12.00 Mulai melakukan pendataan RT 05, Wawancara masyarakat, ploating area, dan Dokumentasi
-Pukul 12.00-14.15 ishoma
-Pukul 14.15-17.30 Melanjutkan kegiatan pendataan RT 05, Wawancara masyarakat, ploating area, dan Dokumentasi
-Pukul 17.30-19.30 Ishoma
-Pukul 19.30-21.57 Melakukan perekapan data.


Gandawesi KPALH di Pegunungan Himalaya

Sebuah hal yang membanggakan buat para pendaki gunung adalah mendaki gunung tertinggi di dunia yaitu Gunung Everest. Selalu ada hasrat untuk mendaki gunung terus setiap kali satu pendakian gunung selesai dilakukan.

Adalah seorang anggota Gandawesi KPALH, Nandang Sanjaya dengan bangga membawa bendera organisasi melampaui ketinggian gunung yang pernah didaki sebelumnya.

Dalam instagramnya, ia membagikan pengalaman mendaki sampai kaki gunung Everest. Inilah beberapa dokumentasi yang diambil langsung dari Nandang Sanjaya






Kembali Mendaki Gunung Bukit Tunggul (Lagi)

Mendaki gunung bukan perihal tinggi, jauh, menantang atau apapun. Mendaki gunung adalah mendaki gunung dengan segala dinamika yang menyertainya. Catatan di bawah ini sebuah keasyikan mendaki gunung yang ditulis Anggota Gandawesi setelah lama mendaki gunung lagi. 

Long weekend! Alhamdulillah bisa kumpul keluarga besar KPALH Gandawesi, senang rasanya persaudaraan dan kerjasama lintas angkatan semakin erat dan terjaga.

Hari pertama 31 Maret diawali dengan acara pendakian ke Bukit Tunggul yang memiliki ketinggian 2206 Mdpl. Peserta lintas angkatan dipersilakah untuk partisipasinya bagi yang masih kuat menapaki tanjakan. 

Sebagai tantangan  uji nyali aku tak mau ketinggal tentunya memberanikan diri ikut serta. Terakhir mendaki Bukit Tunggul tahun 1992, dan kali ini adalah pendakian ke tiga setelah sekian lama. 

Ternyata sensasinya masih sama, saat naik dan turun, naik dibutuhkan tenaga prima dan pengaturan nafas karena medan yang dilalui menanjak dan saat turun walau tidak terlalu menguras tenaga namun cukup membuat lutut "noroktok" menahan beban tubuh pada trek yang menurun. 

Namun berbekal sabar dan niat kuat walau langkah kaki merayap, selangkah demi selangkah menapaki lintasan akhirnya sampai juga ke puncak. 



Ketinggian 2206 mpdl dengan kondisi medan terjal dapat di tempuh dengan waktu tiga jam empat puluh menit. Mulai perjalanan dari camp jam delapan pagi sampai puncak jam sebelas lebih empat puluh menit.

Wawwww senang luar biasa ternyata walau perut sudah buncit tidak terlalu sulit mendaki tanjakan yang seringkali harus menekuk lutut saking terjalnya, karena jalur yang kami lewati bukan jalur landai namun kebanyakan jalur tejal yang seringkali untuk melintasinya harus berpegangan pada akar atau rerunputan. 

Sesampai di puncak beristirahat sejenak, membuka perbekalan, menikmatinya bersama untuk  mengganti energi yang terkuras dan sebagai amunisi untuk melanjutkan perjalanan pulang. 

Menuruni Bukit Tunggul tidak seberat dan selama mendakinya. Kami hanya membutukan waktu dua jam sudah sampai kembali ke camp dengan selamat dan rasa senang. 

Jam lima belas tiga puluh kami sudah bisa bergabung  kembali dengan peserta lain. Mendirikan tenda dan mengikuti acara selanjutnya.

(Kembali Mendaki Gunung Bukit Tunggul (lagi) adalah catatan Mienz Riesa Mintarsyah)

Dokumentasi lainnnya
Penulis di Puncak Gunung Bukit Tunggul







Basecamp yang kemudian menjadi tempat ajang silaturahmi anggota





Manajemen Organisasi

Dalam mencapai maksud dan tujuan organsasi, ada 4 fungsi organisasi yang sangat perlu diperhatikan berkaitan dengan manajemen organisasi, yakni:
a.      Planning (perencanaan)
Hal yang berkaitan dengan perencanaan dalam organisasi diantaranya adalah rencana-rencana yang coba disusun oleh pengelola organisasi, seperti rencana kerja atau kegiatan serta anggaran yang diperlukan, teknis pelaksanaannya bisa melalui rapat-rapat, seperti:
-          Rapat Kerja (pengurus organisasi) yang membicarakan rencana-rencana kerja pengurus serta kegiatan anggota yang akan dilakukan dengan satu atau lebih target yang akan dicapai.
-          Rapat Anggaran, untuk menentukan berapa jumlah anggaran yang diperlukan untuk mendukung kerja organisasi atau untuk suatu event / kegiatan (wujudnya daftar RKA) atau proposal kegiatan.
b.      Organizing (pengaturan)
Dalam hal pengaturan, unsur yang perlu diperhatikan & diwujudkan adalah :
-          Struktur Organisasi yang mampu menunjukkan bagaimana hubungan (relationship) antara organisasi/bagian/seksi yang satu dengan yang lain.
-          Job Description yang jelas yang mampu menjelaskan tugas masing-masing bagian/seksi.
-          Bentuk Koordinasi antar bagian dalam organisasi (mis. Rapat Koordinasi antar bagian Rapat Pimpinan antar Organisasi, dll)
-          Penataan dan Pendataan Arsip & Inventaris Organisasi Harus diatur dan ditata dengan baik administrasi organisasi, seperti surat masuk, surat keluar, laporanlaporan, proposal keluar, data anggota, AD/ART, GBHK, presensi, hasil rapat, inventarisasi yang dimiliki, perangkat yang dipinjam dll. Siapapun orang yang memerlukan data-data atau perlengkapan, maka ia akan mudah menemukan, apakah yang tersimpan dalam bentuk file-file di komputer atau yang berada ditempat/ lemari penyimpanan berkas-berkas. Segala bentuk surat menyurat tercatat dan terdokumentasi, segala perangkat yang dimiliki dan dipergunakan terdata, kapan dibeli, siapa yang mempergunakan saat ini, bila ada kerusakan siapa yang bertanggungjawab untuk memperbaiki atau bila dipinjam kapan harus dikembalikan dll.
c.       Accounting (pelaporan)
Pelaporan merupakan unsur wajib yang harus dilakukan untuk menunjukkan sikap & rasa tanggung jawab dari pengurus kepada anggotanya ataupun kepada struktur yang berada diatasnya. Wujud kongkritnya adalah :
-          Progress Report (Laporan Pengembangan Kegiatan) atau
-          Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Kegiatan Progress Report biasanya berbentuk laporan praktis organisasi kepada anggota atau struktur diatasnya bila diminta, terkadang bisa berbentuk lisan (pembicaraan antar pimpinan dengan pimpinan atau dengan anggota). Sebaiknya Progress Report ini dapat ditampilkan dalam bentuk laporan berbentuk tabel / matrix yang bisa dilihat
orang setiap saat (contoh terlampir), biasanya kegiatan masih berlangsung ketika progress report disampaikan. Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) adalah laporan lengkap dari sebuah atau beberapa kegiatan yang telah selesai dilaksanakan organisasi, biasanya merupakan laporan hasil evaluasi dan anggaran yang dipergunakan
d.      Controling (pengawasan)
Tugas organisasi ataupun pimpinan organisasi yang tidak boleh terlewatkan adalah melakukan pengawasan terhadap aktifitas organisasi ataupun realisasi kegiatan dan penggunaan anggaran. Agar tugas / tanggung jawab pengawasan dapat dilaksanakan dengan pertimbangan efektifitas dan efesiensi waktu maupun dana, maka dapat dipertimbangkan faktor-faktor sbb :
-          Pembagian Tugas Pengawasan
-          Pendelegasian Wewenang
-          Pembuatan Rencana Kegiatan dan Anggaran serta Realisasi Kegiatan dan Anggaran (RKA)
-          Pembukuan / dokumentasi atau kearsipan

Manajemen Organisasi Industri 



Gali Potensi Jaga Silaturahmi

Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi mengundang seluruh anggotanya untuk menghadiri "Temu Akbar Lintas Angkatan Gandawesi". Rencananya, kegiatan ini akan dilaksanakan di Area Camping Ground Bukit Tunggul, Area Perkebunan Kina.

Bagi Gandawesi, berkegiatan di alam terbuka menjadi hal lumrah. Namun, bagi keluarga masing-masing anggota akan menjadi kenangan tersendiri. Apalagi untuk anggota luar biasa (ALB) yang baru saja menempuh rumah tangga. Bisa merasakan camping dengan suasana berbeda. Membaur satu sama lainnya.

"Ngumpul, main, naek gunung, silaturahim, sambil piknik bawa keluarga...ngobrol santai sambil menggalang potensi ALB untuk diberdayakan," ujar salah satu pendiri Gandawesi Nusa Bela, saat berbincang, Selasa (6/3/2018).



Dia berharap, ALB mempunyai gerakan nyata untuk memajukan organisasi yang menaunginya. Ke depan, potensi besar yang dimiliki ALB bisa mendorong Gandawesi lebih maju lagi. Kegiatan temu alumni lintas angkatan ini, katanya, sengaja digagas dan dijalankan ALB agar anggota biasa (AB) bisa fokus dengan program kerjanya.

"Kapasitas anggota di kampus biar fokus dengan rutinitasnya, seperti DIKSAR, PPNIA, dan Diesnatalis. Kalau itu dijalankan dengan benar, sudah cukup menyita waktu, tenaga, pikiran dan pengorbanan. Untuk kegiatan kegiatan lainya di luar itu, ada yang bisa dikerjakan oleh ALB. Jangan semuanya dipasrahkan ke mereka yang masih di kampus. Tentu dalam koridor aturan yang ada," katanya.



Pria dengan nomor induk anggota GW.01.026 Gumuruh ini meyakini, ratusan ALB Gandawesi memiliki ide-ide gila untuk memajukan organisasinya. Namun, ide gila itu tidak bisa dibebankan kepada anggota yang masih menjalani studinya. Dia berharap, dengan adanya kegiatan ini bisa menularkan ilmu positif bagi penerus Gandawesi selanjutnya.

"Kita juga tidak membiarkan adik-adik di kampus kekurangan ilmu selama menjalani proses alamiah mulai jd siswa, mulai menjadi AM, AB, atau jadi dewan pengurus. Contoh pada saat AM, seorang anggota apakah proses masa pembinaannya ada yang mengajarkan kesekretariatan. Selama ini,  ALB sering mengoreksi diujung atau sesudahnya. Tetapi selama prosesnya apa ada yang peduli," jelasnya.



Rencananya, Temu Akbar Lintas Angkatan Gandawesi akan diselenggarakan pada Sabtu - Munggu, Tanggal : 31 Maret - 01 April 2018.  Kegiatan ini mengusung tema "Menggali Potensi Anggota Luar Biasa guna Kemajuan Organisasi."




Gandawesi Hidupkan Lagi Wisata Grajagan

Bagi pelancong, wisata bahari menjadi primadona tersendiri. Apalagi, berwisata bersama dengan rekan sejawat. Banyak rekaman kenangan yang bakal tersimpan dengan baik di memori masing-masing pelancong itu.

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah pantai Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur. Wana wisata di ujung timur pulau Jawa ini sempat menjadi primadona, terutama bagi pelancong domestik maupun mancanegara. Namun, kini semakin ditinggalkan karena kalah saing dengan wisata kreatif yang semakin menjamur di wilayah itu.

Tim ekspedisi Sisig Basisir, Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi, berupaya menghidupkan lagi wisata alam di pantai itu. Sedikitnya, 9 orang tim diterjunkan untuk melihat permasalahan dan potensi wisata yang mesti dibangkitkan lagi.

Salah satunya menyoal kebersihan pantai yang selalu dianggap remeh pengelola. Termasuk di pantai Grajagan, Banyuwangi. Padahal, tempat ini memiliki beragam fasilitas, mulai homestay, toilet, balai tamu, goa Jepang, hingga spot foto yang instagramable.

"Sekarang agak sepi. Beda dengan dulu, sebelum banyak tempat wisata lain di Banyuwangi, pantai Grajagan ini paling ramai dikunjungi karena satu-satunya wisata yang menarik. Tapi kini, kondisinya tak terawat, gersang, sampah daun dan plastik berserakan," ujar komandan operasional Ekspedisi Sisig Basisir, Gani Gunawan, Minggu (4/3/2018).

Pengelolaan lingkungan ini, ungkapnya, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pengelola wisata. Menurutnya, pengelolaan wisata pantai bisa dipadupadankan dengan wisata kuliner yang ada di sekitar itu. Selain mata indah memandang, perut juga bisa menjadi kenyang.

"Oia, disini juga ada cilok (istilah makanan kecil asal Bandung, Jawa Barat). Tapi, di sini namanya bakso angger, padahal rasanya cilok. Banyak juga penjual rujak, mulai rujak buah, daging, hingga soto, dinamai rujak," katanya.

Untuk mencapai pantai Grajagan, kita bisa gunakan bis atau angkot yang mengarah ke sana. Lalu turun di daerah Benculuk untuk dilanjutkan memakai angkutan desa atau ojeg. Kita juga bisa bawa kendaraan sendiri mengarah ke selatan Banyuwangi sejauh 52 kilometer. Saat sampai di pintu gerbang, siapkan kocek untuk tiket seharga Rp 8 ribu per orang.



Menurut Ketua Tim Ekspedisi Sisig Basisir, Hamdan Hafidhuddin, setiap anggota ekspedisi diwajibkan mengikuti bina jasmani sebelum beraktivitas setiap harinya. Termasuk di pantai Grajagan, tujuan pertama yang didatangi tim. Terdiri dari Gani gunawan, Bagus ilham khoir, Piona chessonia masyer, Azhar adhiyatso, Desy anita syabaniah, Hamdan Hafidhuddin,

"Saat tiba di pantai Grajagan, kita langsung bergerak untuk pengambilan data kebersihan pantai dan terbagi jadi 3 kelompok. Saya dan bagus bergerak ke arah barat pantai. Aso dan Piona bergerak ke arah timur. Sedangkan Gani dan  Desi melakukan wawancara ke petugas pengelola pantai," katanya.



Keluarga Disabilitas Korban Banjir Disambangi Gadis Gandawesi

Dari gang ke gang, dari kampung ke kampung, menyusuri pemukiman warga yang terendam air bah. Banjir, walau tak bandang, menyisakan derita berkepanjangan bagi warga terdampak.

Warga yang tadinya mampu, bisa menjadi miskin dalam sekejap ketika ditimpa bencana. Apalagi warga yang sehari-harinya tak berkecukupan. Kehadiran pemerintah dan warga lainnya sangat diperlukan untuk membantu meringankan beban korban banjir, dimanapun.

Pekan lalu, Kampung Babakan, Desa Majakerta, Majalaya, Bandung, menjadi bagian yang merasakan ganasnya air. Beberapa rumah terendam, karena air sungai Citarum meluap. Termasuk rumahnya Permana dan Tetty.

Kedua orang penyandang disabilitas netra ini, harus turut mengungsi kala banjir merendam rumahnya. Semua perlengkapan rumah tangganya terendam, hanya beberapa saja yang bisa diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi.



Banjir berlalu, tapi mereka tetap membutuhkan uluran tangan karena pasca banjir, masih banyak yang harus diselesaikan. Beruntung, Balai Siaga Bencana di wilayah itu tanggap melihat warga yang benar-benar membutuhkan. Salah satunya, penyandang tunanetra ini.

Apalagi orang tua dari Haila dan Naura ini, menjadi orang tua angkat bagi penyandang disabilitas lainnya yang ditelantarkan keluarga masing-masing. Rumahnya tak begitu besar, tapi dia rela berbagi untuk sesama penyandang disabilitas lainnya.

Kasur kapuk mereka pun, basah kuyup. Berhari-hari di jemur di teras rumahnya, tak juga kering. Begitu pun dengan pakaian sehari-hari. Pasca banjir, keluarga disabilitas ini sangat menggantungkan hidupnya dari bantuan tetangga dan warga lain.



Kedatangan gadis-gadis Gandawesi ke rumah Disabilitas korban banjir ini, menjadi obat tersendiri. Feby, Nida, dan Dela, sigap membantu balai siaga dalam menyalurkan bantuan. Termasuk untuk keluarga Permana dan Tetty tadi. Di bawah koordinasi, Yudi Norman Fauzi, Guru SMA 2 Majalaya, Bandung, mereka hadir untuk meringankan beban korban banjir.

"Karena mereka tunanetra, dan kebanjiran, maka jadi prioritas utama kita untuk menyalurkan bantuan. Apalagi, perhatian dari pemerintah kepada penyandang disibilitas itu cukup kurang. Makanya kita bawa kesini bantuan kasur, pakaian layak pakai, dan makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka pasca banjir ini," ujar Yudi saat berbincang, Sabtu (3/3/2018).

Sedikitnya ada 6 orang anak berkebutuhan khusus yang diangkat Permana menjadi keluarganya. Di wilayah ini, tidak ada sekolah luar biasa atau pendidikan inklusi untuk menampung mereka. Rumah Permana dan Tetty inilah yang menjadi tumpangan para kaum disabilitas. Walaupun kedua orang itu juga sama-sama disabilitas.



Feby, angkatan 29 Gandawesi mengaku sangat prihatin dan bangga melihat kondisi mereka. Meski berkebutuhan khusus, mereka tetap semangat menghadapi bencana yang menimpanya. Bahkan, salah satu diantaranya berusaha bangkit dari keterpurukan dengan menjadi pengusaha telor asin.

"Kita dan tim dari balai siaga bencana, ikut memberikan bantuan sosial bagi mereka. Kita sebenarnya hanya relawan trauma healing untuk anak-anak korban banjir. Tapi, terkadang diperbantukan pada beberapa kegiatan, salah satunya menyalurkan bantuan dan entry data assesment korban banjir," kata Feby.

Hingga kini, warga korban banjir di kawasan Bandung Selatan itu masih membutuhkan uluran tangan dari masyarakat lainnya. Bantuan bersifat Natura, baik pakaian layak pakai, makanan, hingga perlengkapan rumah tangga.

Asyiknya Bercengkrama Di Kereta Ala Gandawesi

Menempuh perjalanan 26 jam di kereta, pastinya membuat kita suntuk. Apalagi tak menyiapkan perbekalan. Hanya duduk, tidur, minum, lihat pemandangan di luar jendela, dan sesekali berjalan menyusuri gerbong kereta. Aaaah, bosan.

Tapi tidak dengan sembilan orang anggota Gandawesi. Saat ini, mereka tengah menempuh perjalanan dari stasiun Kiaracondong, Bandung ke Banyuwangi, Jawa Timur. Perjalanan untuk melaksanakan Program Pengambilan Nomor Induk Anggota (PPNIA) puncak, berupa ekspedisi "Sisig Basisir" ke Pantai Coko Grajagan sampai Pantai Plengkung, Banyuwangi, Jawa Timur.

Tas ransel ukuran 75-85 liter, membebani pundak mereka masing-masing. Namun, beban berat di dalamnya membuat mereka semakin gagah, sebagai sosok pecinta alam trendy. Tapi bukan soal gagah-gagahan. Perjalanan mereka murni untuk meneliti lingkungan di pantai yang dituju.



Ransel-ransel besar itu tak lagi membawa kesan gagah, saat tidak digunakan. Iya..lah, ransel-ransel itu harus ditaruh di bagasi atau tempat duduk masing-masing. Saat di kereta, mereka tetap saja seperti penumpang lainnya. Tidur dan ngiler.

Adalah Gani gunawan, Bagus ilham khoir, Piona chessonia masyer, Azhar adhiyatso, Desy anita syabaniah, Hamdan Hafidhuddin, anggota muda Astha Bayu yang melakukan ekspedisi itu. Mereka didampingi dua anggota biasa dan satu anggota luar biasa untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Menurut Gani Gunawan, 21 tahun, Ketua angkatan ke-30 Gandawesi, Astha Bayu yang juga merangkap komandan operasional ekspedisi, mengaku panas bujur (maaf, panas pantat) karena harus duduk di kereta selama 26 jam. Namun, perjalanan itu dibuat seru dengan beragam tingkah.

"Lumayan panas bujur, tapi seru. Sebenarnya saya cukup deg-degan. Selain karena baru pertama kali naek kereta, tapi juga karena lingkungan baru. Apalagi, kami harus bertanggung jawab sama objek yang kita tuju nanti, takut hasilnya kurang memuaskan banyak pihak saja. Tapi, Alhamdulillah senang juga. Dapat pengalaman baru," ujar Gani saat berbincang, Sabtu (3/3/2018).

Tentunya, keseruan mereka tetap menjaga etika di dalam kereta. Tak membuat gaduh dan mengganggu penumpang lainnya. Namun, terkadang bau-bau asem karena belum mandi tercium menyengat oleh penumpang lain. Walau antara anggota satu dan lainnya tetap jahil untuk menghilangkan kejenuhan.



Ketua Dewan Pengurus KPALH Gandawesi, Dewi Sunartini mengatakan, ekspedisi "Sisig Basisir" angkatan 30, Astha Bayu dilakukan ke kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Mereka akan menyusuri 5 titik pantai, mulai pantai coko grajagan, cungur, ngagelan, pancur, dan plengkung. Panjang pantainya mencapai 29,5 kilometer.

"Ekspedisi ini dijadwalkan pada 2-8 Maret 2018. Sisig Basisir tidak hanya susur pantai semata, tapi juga mereka melakukan penelitian pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan kebersihan lingkungan di kawasan pantai," katanya.

Kegiatan ini sebagian besar didanai uang saku masing-masing anggota yang berangkat, juga pencarian dana usaha dan sumbangan donatur. Kegiatan ini merupakan tahapan terakhir dalam program PPNIA untuk mengaplikasikan semua ilmu kegandawesian di lapangan. Terlebih, kegiatan tersebut dirancang dan dilaksanakan oleh anggota muda sendiri untuk selanjutnya bisa menjadi dasar saat mereka merancang kegiatan selanjutnya.

"Ini adalah awal puncak kegiatan bagi anggota muda, kegiatan yang mereka buat sendiri, sesuai keinginan angkatan mereka. Ekspedisi ini bisa mengajarkan kepada mereka untuk lebih dewasa, dalam prosesnya, mereka mendapatkan tempaan dari dalam maupun luar untuk kesiapan selanjutnya. Karena, setelah mereka menjadi anggota biasa, bahkan setelah jadi alumni di kehidupan luar kampus, mereka akan mendapat tempaan lebih dari ini," jelasnya.


 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes