BREAKING NEWS

Fotografi

Lingkungan

FPTK

Pengangkatan Anggota Kehormatan Gandawesi

Di hari yang sama dengan upacara pembukaan pendidikan dasar Gandawesi, tanggal 2 Desember 2019 di FPTK juga dilaksanakan pengangkatan anggota kehormatan kepada ketua himpunan dan UKM di lingkungan FPTK.

Anggota Kehormatan Gandawesi menjadi semakin dinamis dengan dukungan dari ketua himpunan. 

Dilantik langsung oleh Dewan Pengurus Gandawesi dan penyamatan syal dilakukan oleh anggota Gandawesi angkatan ke 3.

Selamat datang kepada anggota kehormatan Gandawesi. Mari berkarya dan berkolaborasi di Gandawesi.

Inilah prosesi pengangkatan Anggota Kehormatan Gandawesi.


Penyematan Syal 


Penyematan Syal


Anggota Kehormatan Gandawesi




Selamat datang kepada anggota kehormatan Gandawesi. Mari berkarya dan berkolaborasi di Gandawesi. 

Pembukaan Pendidikan Dasar XXXIII Gandawesi KPALH

Pendidikan Dasar Gandawesi adalah salah satu pendidikan yang sangat menarik! Menggunakan alam sebagai media belajar serta eksplorasi dari tiap tahapan yang selalu menantang.


Hari ini Senin, tanggal 2 Desember 2019 telah dilaksanakan Upacara Pembukaan Pendidikan Dasar XXXIII  di FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.

Upacara dipimpin oleh Neneng Rusminingsih yang merupakan anggota Gandawesi angkatan ke-3. Dalam amanatnya, Neneng berpesan agar menjadikan pendidikan dasar ini sebagai langkah awal yang baik untuk menjadi bagian dari anggota Gandawesi. Lantas kemudian akan menjadi keluarga besar Gandawesi.

Siswa yang ditetapkan sebagai peserta pendidikan berjumlah 22 orang dari semua jurusan yang ada di FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.

Selalu komandan latihan, Hamdan berpesan kepada siswa agar selalu kompak selama mengikuti pendidikan dasar baik tahap materi maupun tahap lapangan.

Inilah dokumentasi kegiatan pembukaan pendidikan dasar Gandawesi ke 33.


Upacara Pembukaan Pendidikan Dasar Gandawesi 


Penyematan Syal Putih


Pembacaan Surat Keputusan oleh Ketua Dewan Pengurus



Sebuah Jejak Perjalanan Ke Baduy Tahun 1986

Bayangkan sebuah perjalanan yang masih sangat terbatas. Kendaraan masih sulit, baik kendaraan beroda dua maupun kendaraan beroda empat. 
Jalur jalan yang alami, hutan belantara masih lebat, dan jangan bayangkan ada jalur komunikasi praktis seperti sekarang. 
Bayangkan perjalanan tahun 1986. Sebuah perjalanan yang tentu saja sangat menarik dan menyenangkan untuk para petualang pada masa itu. 
Ada Purwo Cahyono Hadi yang merupakan anggota Gandawesi angkatan Gumuruh, yakni angkatan pendiri Gandawesi KPALH memberikan inspirasi untuk anggota sekarang. Sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk dijadikan pelajaran. 
Kang Purwo, demikian kami memanggil beliau masih aktif sampai sekarang untuk melakukan perjalanan-perjalanan bersama anak didik dan juga keluarganya. 
Nah, inilah sebagian dokumentasi perjalanan Kang Purwo ke Baduy di Banten sampai Pantai Cisolok bersama rekannya. 














Terima kasih untuk segala inspirasi perjalanannya. Semoga menjadi penyemangat dan pemantik bagi yang lain agar terus melakukan perjalanan. 
"Kuliah tong ngaganggu ulin!" 



Pendidikan Dasar Gandawesi

Salam Lestari!!

Sudah siapkah kalian bergabung dengan kami? Ini waktunya!

Pendidikan Dasar XXXIII Gandawesi KPALH KM FPTK UPI 

Dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:

Pendaftaran :
31 Okt - 15 Nov 2019.

Seleksi :
18 - 27 Nov 2019 .
Pengumuman :
1 Des 2019 .
Pra-Lapangan :
2 Des 2019 - 23 Jan 2020 .
Lapangan :
24 Jan - 3 Feb 2020.

Kami tunggu kalian di Stand Pendaftaran di Helipad FPTK UPI!!

Salam Lestari!













Selamat Bertualang Kepada Semua Yang Baru Lulus

Kuliah adalah sebuah perjalanan. Ada saatnya berlari, ada saatnya berjalan, dan ada saatnya berhenti sejenak.
Selepas kuliah tentu saja petualangan baru menanti. Berjalanlah terus agar sampai pada titik kebijaksanaan hidup untuk menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
Selamat untuk anggota Gandawesi yang telah menuntaskan satu tahap perjalanannya di kampus UPI. 



MOKAKU 2019: Mengenal Gandawesi KPALH

Beberapa dokumentasi kegiatan pengenalan Gandawesi KPALH di acara MOKAKU 2019 FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.
Dipimpin oleh Gani yang menceritakan hal asyik bersama di organisasi pecinta alam.
Gandawesi sudah melakukan kegiatan yang asyik selama menjalankan hari-hari yang tersedia.
Mendaki gunung, menyusuri pantai, olah raga arus deras, panjat tebing, dan lainnya.
Inilah keasyikan yang terekam! 
Yuk temui kami di sekertariat Gandawesi di Universitas Pendidikan Indonesia.















Selamat Berkarya, Mahfud Gali!

Setelah melewati tahapan yang harus dilakukan oleh calon mandataris, akhirnya terpilih seorang anggota Gandawesi untuk menjalankan roda organisasi ke depan.

Segenap redaksi Buletin Gandawesi mengucapkan Selamat menjalankan tugas untuk Mahfud Gali (GW.29.233.B). Percayalah bahwa benih kebaikan yang kau tanam hari ini akan engkau petik dikemudian hari.

Jadikan setiap hari di Gandawesi sebagai hari berkarya, memupuk benih kebaikan untuk lingkungan, agama, dan bangsa!

Terima kasih kepada ketua Dewan Pengurus sebelumnya yakni Piona yang sudah berkarya selama setahun kemarin. Tetap semangat berkarya dan membangun jiwa-jiwa Gandawesi yang pantang menyerah dan selalu bersemangat setiap hari. 

Gandawesi tetap jaya! 



Perjalanan Organisasi Pecinta Alam dan Bagaimana Ke Depannya!

Pecinta Alam di Indonesia semakin banyak. Di setiap daerah hampir rata-rata memiliki organisasi pecinta alam. Baik untuk lingkungan perumahan, komplek, maupun lintas daerah. Semangat yang menyatukannya rupa-rupa, dari mulai kesenangan yang sama, hobi yang sama, yakni mendaki gunung sampai organisasi pecinta alam yang dibangun dengan idealisme untuk lingkungan hidup.
Di kampus-kampus pun demikian, semakin menjamur organisasi pecinta alam baik di tingkat jurusan, fakultas, sampai universitas. Untuk yang sudah lama berdiri, mereka tetap menyebarkan semangat menjadi organisasi pecinta alam yang bersaudara dengan organisasi pecinta alam di manapun.

Namun seiring dengan bertambahnya bentuk kegiatan, prestasi serta prestise meningkat, ternyata banyak sekali perhimpunan pencinta alam yang ada sekarang tidak mengetahui sejarah asal-usul pencinta alam itu sendiri. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang ia cintai, apakah mungkin akan tumbuh rasa cinta pada sesuatu tersebut? Hal ini mengakibatkan banyaknya perhimpunan pencinta alam yang hanya sekedar mengusung simbol-simbol serta kebanggaan dengan memasang berbagai atribut atau aksesoris agar nampak seperti pencinta alam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan hal itu.

Padahal di awal kehadirannya, organisasi yang “lahir” di atas kemelut politik ini telah memiliki visi dan misi yang jelas, yang paling sederhana adalah dalam pembentukan character building. Di salah satu artikelnya yang berjudul Menaklukkan Gunung Slamet yang terangkum dalam buku Zaman Peralihan. Soe Hok Gie (Alm.) menulis seperti ini, “….Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya, dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. “Libur ini kami ingin mendaki gunung yang berat.” Kami terangkan kepada mereka.

Gandawesi KPALH sebagai organisasi pecinta alam

Berdasarkan tulisan di atas, almarhum memahami benar bahwa orang yang bergerak dalam kegiatan outdoor seperti ini umumnya memiliki kemampuan fisik, sikap serta intele-gensia yang baik. Dan itu jelas merupakan modal yang bagus untuk pembangunan. Namun yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Banyak yang mengklaim dirinya pencinta alam tetapi dalam kegiatan sebenarnya justru malah merusak alam. Apakah ini bukan salah kaprah namanya ?

Asal-usul Pencinta Alam

Kelahiran pencinta alam di Indonesia memang tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulannya. Namun yang jelas, cikal bakal kegiatan ini mulai hadir sekitar tahun 60-an. Konon, istilah pencinta alam itu sendiri pertama kali dikenalkan oleh (Alm) Soe Hok Gie, salah satu pendiri Mapala UI. Namun penulis sendiri yakin, bahwa almarhum tidak akan pernah menyangka bila istilah yang diperkenalkannya itu kelak akan masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia, karena awal kehadirannya pun “Cuma” sebuah rangkaian kecil dari sejarah politik Indonesia pada saat itu. Ketika Presiden Soekarno semakin terpengaruh oleh Partai Komunis Indonesia, atmosfir politik di Indonesia otomatis terpecah menjadi dua. Satu pihak yang berada di belakang Soekarno menyebut dirinya sebagai kelompok revolusioner, sementara pihak yang tidak sejalan dengan garis kebijaksanaan Soekarno dianggap kelompok kontra-revolusioner atau kelompok reaksioner. Ternyata, kondisi seperti itu merambah pula dalam dunia kampus. Mahasiswa ikut-ikutan terpecah menjadi dua, yaitu kelompok mahasiswa revolusioner dan kontra-revolusioner.

Di antara kelompok mahasiswa yang saling berseberangan itu, ada juga kelompok mahasiswa yang bersikap netral meskipun lokal sifatnya. Di Jakarta, ada kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) serta Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD). Di Bandung sendiri organ­isasi mahasiwa yang bersikap netral adalah Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) dan Corps Studioso­rum Bandungense (CBS).

Gandawesi KPALH

Pertentangan antara dua kelompok mahasiswa itu kian hari kian menguat frekuensinya. Masing-masing berusaha untuk saling mempengaruhi dan saling menjegal satu sama lain. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kemelut politik yang sebenarnya akar permasalahannya justru berada di luar kampus itu mulai “menyerang” ke dalam fakultas, tak terkecuali Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) harus terkena pula imbasnya. Sampai-sampai dalam pemilihan ketua senat pun, para kandidat yang muncul adalah mahasiswa-mahasiswa yang membawa bendera-bendera organisasi tertentu. Namun ternyata, tekanan dari kelompok revolusioner kian lama kian menguat, dan kelompok yang netral justru malah semakin terjepit diantara kekuatan-kekuatan tersebut.

Dalam kondisi terjepit seperti itu, kelompok netral yang berada di FSUI mencoba untuk “menggeliat” dengan melakukan serangkaian kegiatan-kegiatan. Baik itu di lingkungan kampus maupun di luar. Kelompok yang semakin hari semakin banyak peminatnya itu mulai “melawan” dengan caranya sendiri. Seperti; menyelenggarakan diskusi, memutar film dan kegiatan lainnya. Sementara untuk kegiatan luarnya, mereka selalu memiliki agenda untuk menyelenggarakan perjalanan bersama ke gunung-gunung maupun ke dusun-dusun sepi. Rasa senasib sepenanggungan dalam perjalanan, terkucil dari “keramaian” politik serta rasa terpencil itulah yang membuat mereka bersama-sama untuk “berkeluh kesah” pada Sang Pencipta. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang tidak rela almamaternya (FSUI) dijadikan ajang pertarungan politik guna kepentingan luar. Kemudian kelompok ini menamakan diri sebagai pencinta almamater. Selain dimotori oleh (Alm) Soe Hok Gie, juga ada Herman O. Lantang, Asminur Sofyan Udin, Edi Wuryantoro serta Maulana.
Pemanjatan tebing oleh Gandawesi KPALH

Dalam skala kecil, hikmah yang bisa diambil oleh mereka adalah mendapatkan kawan yang senasib-sepenanggungan sementara untuk lingkup yang luasnya, yaitu bahwa ternyata untuk mencintai dan mem­bangun negara tercinta tidak selalu harus dengan cara berpolitik. Masih ada cara lain selain saling “sikut-menyikut” guna kepentingan penguasa, mendaki gunung, misalnya.

Atas dasar pengalaman serta penderitaan itulah yang kelak kemudian menjadi cikal-bakal organisasi yang untuk pertama kalinya menggunakan istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Prajnaparamita, sendiri adalah lambang jati diri dari FSUI yang berarti dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam mitologi India, karena memang pada saat itu Mapala hanya milik FSUI. Baru pada tahun 1971, ketika Mapala resmi menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa di UI, maka para pendirinya dengan tulus melepaskan hak atas nama Prajnaparamita itu.
Perjalanan laut Gandawesi KPALH

Pada perkembangan selanjutnya, ketika organisasi seperti itu mulai menjamur, para “elite” pencinta alam di tanah air mulai merasakan bahwa sudah tiba waktunya dibentuk suatu kode etik bagi pencinta alam. Setelah beberapa tahun dirumuskan, baru pada Gladian ke-IV lah kode etik bagi pencinta alam dikumandangkan di Ujungpandang.

Antara Lalu dan Kini : Hakekat Yang Telah Tergeser

Berdasarkan kisah di atas, jelaslah kiranya bahwa fenomena kelahiran pencinta alam di Indonesia pada mulanya hanya didasari oleh sikap “perlawanan” dan hasil “kontemplasi” dari sekelompok mahasiswa FSUI terhadap establishment (kemapanan) atau bisa jadi juga aktualisasi dari sikap escapisme (pelarian) dikarenakan rasa tidak berdaya, aliensi dan anomi. Dalam lingkup kegiatannya, idealisme memang diwujudkan di sini. Sampai sekarang pun, idealisme itu masih tetap terpelihara dengan tidak berdirinya organisasi pencinta alam baik itu yang berada di SMU, universitas maupun yang berdiri sendiri pada satu kekuatan atau warna politik tertentu. Karena sampai saat ini, belum pernah kita dengar ada organisasi pencinta alam yang demo kepada pemerintah menuntut “jatah” kursi di DPR.

Namun setelah lima puluh tahun berlalu, idealisme dari makna serta hakekat pencinta alam itu sendiri semakin luntur. Kode etik yang diikrarkan pada tahun 1974 kini hanya menjadi slogan belaka atau sekedar lips service saja, karena itu baru akan dikumandangkan pada saat kode etik itu memang perlu dibacakan. Misal; tiap diselenggarakannya Diklatsar. Tapi ironisnya, hal itu tidak masuk pada perilaku kehidupannya sehari-hari.

Kalau sudah begini, maka urusan pelestarian alam yang jelas-jelas tertuang pada kode etik tersebut hanya menjadi omong kosong belaka. “Penyakit” seperti itu kian waktu semakin merasuk di kalangan para pencinta alam. Akibatnya adalah semakin banyaknya para pencinta alam yang tidak menyadari keberadaan dirinya. Padahal seharusnya mereka memiliki point yang lebih daripada orang-orang yang tidak pernah/belum memasuki organisasi pencinta alam, khususnya soal kesadaran dan kepedulian lingkungan hidup. Bukankan inti dari kode etik itu adalah soal kesadaran akan alam dan upaya manusia untuk mencintai alam? Yang berarti pula mencoba untuk mencintai Sang Pencipta lewat kegiatannya tersebut.

Sebagai bagian dari suatu masyarakat yang lebih besar, sudah saatnya kalangan pencinta alam tidak menutup diri dari perkembangan yang terjadi di luar dirinya. Dari tahun ke tahun, organisasi semacam ini dituntut untuk terus berpartisipasi aktif guna mengisi pembangunan di tanah air. Karena memasuki abad 21 ini, pilihan yang berada di depan hidung para pencinta lam sudah semakin banyak dan kompleks sementara makna serta hakekat dari pencinta alam itu sendiri sebagai pelestari alam telah semakin kabur jauh, entah kemana.

Sepertinya, sudah tiba saatnya organisasi para pencinta alam “bersatu” kembali guna mengembangkan ide serta bentuk kegiatan yang bermanfaat dalam bentuk yang konkrit. Hal ini bukan saja buat dirinya tetapi juga buat masyarakat, tempat dimana golongan ini hidup dan berkembang . Terutama sekali buat “Ibunda” kita sendiri, yaitu alam terbuka, tempat dimana kita bermain dan berkegiatan. (diolah dari berbagai sumber)

Rapat Anggota Tahunan Gandawesi KPALH

Gandawesi KPALH kembali mengadakan kegiatan tahunan yakni Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai bagian dari proses melanjutkan roda organisasi.
Dalam Rapat Anggota Tahunan ini dibahas hal-hal penting dan strategis seputar arah organisasi ke depan.



Inilah informasi umum tentang Rapat Anggota Tahunan ini.



Seminar Mitigasi Bencana


Dalam waktu singkat umat manusia telah mengganti semuanya dengan teknologi. Membuat semuanya menjadi mudah dan sederhana, tanpa mempedulikan akibat dari sebuah inovasi yang mengagumkan. Mahasiswa Pecinta Alam Gandawesi Fakultas Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan seminar Mitigasi Bencana dengan tema: "Peran Mahasiswa Teknik dalam Mitigasi Bencana" yang akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal: Jumat, 24 Mei 2019

Waktu: 15.40-selesai

Tempat: Auditorium FPTK UPI Lt. 5 


Pembicara:

-WALHI

-BNPB


Fasilitas:

-E-sertifikat

-Ilmu yang bermanfaat


Contact Person:

085872515497 (Fikri)


GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM

Mendaki Bersama Anak

Tidak mudah mendaki gunung sendiri apalagi bersama anak. Butuh kesabaran dan ketabahan ekstra untuk membersamai si buah hati dari awal sampai puncak dan kembali lagi ke rumah dengan selamat.

Anggota Gandawesi, Matt Danro, angkatan Elang Rimba membuat catatan menarik seputar perjalanan bersama anak yang ia lakukan pada beberapa gunung. Salah satunya gunung Gede Pangrango. 

Inilah sekilah refleksi akhir perjalanan bersama anaknya. 

"Embun ketinggian"

Bingung apa yang harus saya tulisl, lagi-lagikesekian kalinya Aa Bumi ikut Mendaki

Berjalan berjam jam di hutan yang sedang di guyur hujan kabutpun turun sepanjang perjalanans sehinggamembuat pijakan menjadi licin dan kotor

Terkadang ada rasa khawatir ketika Aa pengen ikut.

jangankan bawa anak, bawa badan dan beban sendiri pun sangatlah berat ketika berada di alam

tapi semuanya sudah dipikirkan dan di siapkan matang-matang. Tak lupa selalu berdoa semoga Allah SWT Masih berkehendak pada perjalanan kami memberikan kesehatan, keselamatan dan kebahagian kepada kami yang suka bermain di alam bebas.

Semua orang bisa melakukannya seperti kamiw, walaupun tidak mudah lagi-lagi proses perjalanan nya yang saya syukuri

Karena di situlah momen dimana banyak cerita dan duka.Tapi kami selalu bahagia melewatinya bersama

Walau terkadang banyak hal yang tidak terduka

Kami selalu bahagia

Karenabahagia sehat


Gn. Gede Via gn Putri

01-02 Mei 2019



Sancang 1985

Jangan bayangkan Sancang tahun 2019 atau tahun 2000-an. Tahun 1985, Sancang adalah sebuah tempat yang sangat asri. Sulit dijangkau dengan kendaraan dan aroma mistis masih sangat kuat.

Ini sekelumit kisah perjalanan Gandawesi ke Kawasan Konservasi Sancang pada tahun 1985 yang ditulis oleh M.Y. Nusabela, seorang anggota Gandawesi angkatan pertama yang bernama Gumuruh. 

"Kangen aneka Fresh Seafood, Rajungan, kepiting, mata lembu, gurita (octopusi), ikan pari, ikan kue, ikan ayam ayaman, geulang oray, hejo tonggong (nama lokal), mata sebelah, dan yang paling mantap udang lobster diatas 800 gram/ekor dengan mudahnya kami dapatkan, dengan dibantu oleh Kang Madjid seorang warga dari kampung Cibalieur. Sehingga selama 4 hari 3 malam kami benar-benar menikmati kekayaan alam Nusantara. Bahkan di muara sesekali kami mancing dapat ikan air tawar yang besar besar. 

Sayang sekali di hari ke 4 kami harus mengevakuasi Kang Ridwan Ralibi ke PUSKESMAS Miramare di Desa Sancang. Milik PTP. Mira Mare, dikarenakan mata merah bengkak, pipi tembem, mulut dower, sebadan badan penuh dengan kaligata. Ternyata dia alergi seafood.

#LeuweungSancang1985

Feminisme Pecinta Alam

Apa sih Feminisme itu?

Kenapa sih ada Feminisme?

Apa sih kaitannya sama Pecinta Alam?


Punya pertanyaan pertanyaan seperti di atas?

Atau punya pertanyaan lain terkait Feminisme?

Memperingati Hari Kartini,

Gandawesi mempersembahkan:

*Diskusi*

>> *FEMINISME PECINTA ALAM *<<


🎊 MINGGU, 21 APRIL 2019

📌 TAMAN BARETI, KAMPUS UPI

⏰ 15.30 - 18.00 WIB

FREE ENTRY

Terbuka untuk umum!

Mau muda, mau tua, mau pria, mau wanita.

Include:

1. Pemahaman

2. Silaturahmi

3. Konsumsi


CP:

📞 +62 838 22060935 (Annida)

📞 +62 838 75145578 (Anisa)


Yuk Ah Kita Berlatih Bareng!

Tidak ada Gandawesi yang terlatih! 

Yang ada Gandawesi yang terus berlatih!

Slogan umum ini banyak dijadikan sebagai penyemangat bagi para pegiat organisasi pecinta alam di mana pun.

Sesi latihan rutin kali ini tentang Rigging, SRT, Variasi Lintasan, dan Self rescue.

Selepas itu, mari kita ngopi!

Catat tanggal dan jam waktunya!

Sabtu, 13 April 2019 di Parkiran depan FPTK UPI 

Sekretariat Gandawesi!

Dipersembahkan oleh Bandung Speleological Activities


Mendaki Bersama Pulang Bersama

Mendaki gunung kini semakin diminati banyak orang. Harus diakui sejak era media sosial, keinginan orang-orang untuk mendaki gunung seolah tidak pernah padam. 

Kehadiran film 5 Cm misalnya, begitu menyedot perhatian banyak orang untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Banyak yang berhasil tapi tidak sedikit pula yang menyisakan cerita tragis sesudahnya. Cerita sukses mah mungkin biasa tapi cerita tragis selalu menjadi sensasi untuk para pencari berita.

Dahulu, tidak sembarang orang bisa mendaki gunung. Selain keterampilan yang harus dikuasi juga peralatan yang sangat mahal dan sulit didapatkan. Orang-orang yang masuk organisasi pecinta alam rerata yang bisa melakukan pendakian gunung. Selain terlatih juga peralatan memadai untuk mendaki gunung. 

Para pecinta alam melakukan latihan rutin baik fisik mental dan pengetahuan untuk mendaki gunung. Alhasil, pendakian bisa berjalan dengan lancar dan pulang dengan selamat. Ada juga yang mengalami kecelakaan diluar kekuasaan manusia. Maksudnya terlatih iya, peralatan yang dibawa juga oke tapi tetap saja ada faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang terkena bencana di gunung.

Masih ingat dalam benak penulis tentang tiga orang pendaki gunung Tampomas yang meninggal dalam tenda dengan peralatan seadanya dan perbekalan seadanya pula. Serang hipotermia bisa menyerang siapa saja di atas gunung. Maka, kesiapan mental mengetahui segala gejala yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa mutlak harus dikuasai oleh pendaki gunung. 

Silakan ikuti kursus atau pelatihan mendaki gunung dengan baik sebelum melakukan pendakian seperti Sekolah Pendaki Gunung yang dilaksanakan oleh Wanadri atau perhimpunan pecinta alam lainnya untuk mengetahui teori dan praktek seputar pengetahuan mendaki gunung dengan aman.

Di Gandawesi, melakukan pendakian gunung itu terkadang rasanya harus ribet sekali. Persiapan ini itu dicek dengan teliti. Kalau ada yang kurang satu saja, harus dipenuhi saat itu juga. Kalau enggak, risiko tidak bisa berangkat mendaki gunung. 

Selalu ingat dengan jargon "Pergi bersama pulang bersama" ini sangat dalam makna dan filosofinya. Kepulangan dan kepergian harus menjadi perhatian karena titik awal suksesnya sebuah pendakian bukan hanya sampai di puncak gunung lalu mengibarkan bendera penuh kebanggaan tapi pulang bersama-sama dalam keadaan utuh. 

Jadi! Mari kita mendaki gunung bersama-sama. Pergi bersama pulang bersama!

 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes