BREAKING NEWS

Meski Berantakan, Cipanas Galunggung Tetap Diminati

Obar Sobarna (42 tahun), warga Bungursari, Tasikmalaya itu terlihat antusias mencari sumber air panas di salah satu sudut kali Cipanas Galunggung. Sumber air panas ini dianggap ampuh dalam mengobati berbagai penyakit. 

Selain memberikan efek relaksasi, air panas belerang itu pun ampuh bagi penderita rematik, dan membantu menyembuhkan penyakit kulit, karena air panas ini bersifat antiseptik. Air panas yang keluar dari gunung berapi itu pun dialirkan ke kolam renang di beberapa titik. Namun, kolam itu selalu sesak dipenuhi pengunjung. 

Kawah Gunung Galunggung (sumber: TripAdvisor)

Bersama rombongannya, Obar pun berendam di kali Cipanas, di tengah hutan Galunggung. Di pinggir kali ini pun, pihak Perhutani membuat kolam berendam di beberapa titik. Namun, kolam yang hanya memuat tak lebih dari 10 orang itu pun tetap saja dipenuhi pengunjung. 

Musim libur panjang seperti pergantian tahun ini, objek wisata Galunggung selalu menjadi primadona masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya. Tak jarang, pengunjunh dari luar daerah pun sering menyempatkan mampir ke Galunggung untuk menikmati keindahannya. 

"Jangan harap leluasa jika musim libur panjang seperti ini. Kita pasti kesulitan mendapatkan air panas alami yang tak terkontaminasi. Kecuali, ya di kali ini, kita nikmati air panas dari pancuran langsung dari sumbernya," ujar Obar saat berbincang, di lokasi, Minggu (1/12).

Menurutnya, air panas yang ada di kolam rendam selalu keruh dan terkontaminasi. Pasalnya, orang yang berendam di kolam itu dipastikan ada yang berpenyakit kulit, minimal gatal-gatal. Apalagi, kata Obar, endapan lumpur akan naik ke permukaan karena kolam itu dipenuhi pengunjung yang berenang. 

"Kalau berendam di kolam, malah kita yang ketularan gatal-gatal. Mending di pancuran begini, murni air panas tanpa campuran. Asalkan, kita kuat menahan panasnya air itu," katanya. 

Saking banyaknya pengunjung, Kali selebar kurang dari tiga meter itu pun dipenuhi sampah-sampah berserakan di dinding dan jalan setapak. Tong sampah yang disediakan tidak mampu menampungnya. Alhasil, wisata Cipanas Galunggung tetap saja terlihat berantakan. 

Rasanya, untuk menikmati pesona air panas yang penuh sampah itu, kita akan merasa kemahalan. Walaupun, tarif tiketnya relatif murah. Di pintu gerbang utama, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp 6500 per orang plus retribusi parkir Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk mobil. Tak jarang, petugas parkir masih meminta uang parkir secara liar jika kita mau keluar. 

Di lokasi parkir ini, ada dua buah kolam rendam air panas yang bisa dinikmati pengunjung. Namun, air panas untuk kolam ini begitu hitam karena konon merupakan air panas buangan dari kolam di atasnya. 

Sedangkan untuk mengakses air panas di kolam dekat sumbernya, kita dikenakan kembali tarif Rp 7 ribu per orang. Sementara, jika kita mau masuk ke sumbernya langsung yakni di Kali Cipanas, tarif yang dipasang sebesar Rp 10 ribu per orang. 

"Kalau mau ke ujung kali, ada curug (air terjun) cukup tinggi. Tapi lumayan jauh dan agal sepi. Hanya saja, airnya dingin. Juga banyak orang pacaran dan berbuat mesum di semak-semak," ucap pengunjung lainnya, Hidayat (40 tahun). 

Menurutnya, pemerintah setempat terkesan membiarkan destinasi wisata primadona Tasikmalaya itu dinodai oknum pengunjung. Padahal, katanya, jika tak mampu mengelola sendiri, lebih baik diserahkan kepada investor untuk mengembangkannya. 

"Galunggung ini punya potensi besar untuk bisnis wisata. Selain Cipanas ini, masih banyak objek lainnya yang belum tersentuh. Ratusan air terjun dan keindahan alam lain di Galunggung, masih belum tersentuh. Kalau seperti ini terus, berebut melulu antara Pemda dan Perhutani, ya mana bisa berkembang," ungkap Hidayat. 

Diketahui, Gunung Galunggung itu pernah meletus hebat pada tanggal 5 Mei 1982. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Dalam letusan itu, abu Galunggung digadang-gadang mencapai Australia. 

Letusannya juga menyebabkan British Airways Penerbangan 9 terpaksa mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, setelah keempat mesinnya mati total. Bahkan, kawasan Priangan Timur selalu gelap karena diselimuti awan hitam selama 9 bulan periode letusan. 

Sedikitnya, ada sekitar 18 orang meninggal yang sebagian besarnya disebabkan secata tidak langsung, seperti kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan. Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 miliar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni. (Peri Ir)

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 gandawesi.or.id. Designed by OddThemes